11. Caffe Zidan

142 24 1
                                        


°°°°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

°°°°

Jangan ambil milik kita, sebelum yang lo ambil nyerahin dirinya sendiri.


~Reyhan Arya Mahendra~

🍁🍁🍁

Ramai itu yang di rasakan oleh Vio saat ini. Vio yang baru saja datang menghampiri tiga pria yang tengah duduk santai.

"Bang idan"

Atensi ketiganya beralih menatap Vio. "Eh Vio, baru dateng?" Vio hanya mengangguk saja mendengar pertanyaan dari Zidan.

"Duduk dulu Vi, ga capek lu berdiri mulu" Vio mendudukkan tubuhnya di samping Rey. Disitu juga ada Teo, yang duduk di samping Zidan.

Vio mengeluarkan gitarnya yang sebelumnya tertutup oleh tas. Tangannya mulai mengutak-atik setelan kunci untuk mengatur nada, perlahan tangannya juga mulai lincah memetik senar dengan rapi. Suara indah mulai terdengar di telinga ketiga cowok di hadapan Vio. Auto mleyot mereka semua, karena tangga nada yang Vio mainkan sangat indah.

"Vi? Setelah mereka nyanyi satu lagu, lo bisa langsung naik kek biasanya" Vio mengangguk menanggapi arahan dari Zidan.

"Lo mau nyanyi lagu apa Vi?" Tanya Teo dan langsung di balas dengan satu kalimat yang membuat ketiganya penasaran.

"Rahasia"

Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya kini giliran Vio yang tampil. Vio berjalan ke panggung dan duduk di kursi yang sudah di sediakan di sana. Sebelum mulai, Vio menunduk untuk mengatur lagi setelan gitarnya. Vio kembali mendongak, atensinya menyapu seluruh kafe. Vio tercengang saat mendapati wajah yang sangat dia kenali.

Arkan dia baru saja datang dan langsung di suguhkan pemandangan Vio yang berada di atas penggung dengan membawa gitar. Mau apa dia di sana? Begitulah pikiran Arkan sekarang. Atensi Arkan mengarah ke tiga cowok yang sedang duduk santai siapa lagi kalau bukan Zidan, Rey dan Teo. Sedangkan Vio yang sudah siapapun kini mulai bernyanyi.

Mengapa selarut ini diriku masih terjaga
hening malam ku bertanya
Elegi di tengah harmoni
ku susun dalam lamunan ini, ku sendiri
Hanya ini yang dapat ku lakukan
Mengagumi tanpa tau belajar tuk ungkapkan
Terangkum nada kata yang tertunda
gambarkan engkau
Pagiku yang tertukar oleh malam

Arkan menatap Vio kagum. Hatinya tersentuh saat Vio menyanyikan lagu ini, seolah lagu ini tertuju untuknya.

Ini pertama kalinya Arkan melihat Vio bernyanyi. Sangat berbeda dengan kepribadian Vio yang biasanya hanya berbicara 1-3 kata, bahkan untuk 5 kata saja jarang. Meski Vio mengeluarkan kata kata yang banyak walau hanya dari bait lagu yang di nyanyikan, Vio sama sekali tidak memperlihatkan senyumnya. Sama seperti hari-hari biasanya.

Still With Wounds (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang