❗PASTIKAN FOLLOW DULU SEBELUM BACA❗
.・゜゜・*+:。.。 。.。:+*.・゜゜・
Bagaimana jika Vio gadis yang dingin ini bertemu dengan ketua geng motor. Dan bagaimana jika keluarga Vio memiliki hubungan dengan keluarga ketua geng itu tampa sepengetahuan Vio?. Lalu bag...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🍁🍁🍁
Siang sudah berganti malam, dengan langkah mengendap-endap Devan keluar dari rumah. Ini sudah biasa ia lakukan, makanya Devan sampai bisa kenal dengan Mahen. Dan tujuannya malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya, yaitu balapan liar. Satu hal yang harus kalian tahu, Devan tidak menyimpan motornya di garasi rumah, melainkan menyimpan di tempat khusus yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari.
Butuh waktu sepuluh menit untuk berjalan kaki menuju tempat itu, hingga ia pun sampai dan segera menuju Sirkuit. Di perjalanan matanya selalu fokus dan tenang memandangi jalanan. Hingga matanya tak sengaja melihat sosok yang sepertinya ia sangat kenal. Dengan curiga laki-laki itu putar balik dan mengikuti sosok tersebut.
Yang ia lihat saat ini ketika motornya dan motor orang itu terhenti adalah sebuah markas yang ramai dengan anak motor. Samar-samar ia juga mendengar orang itu di panggil dengan sebutan bos oleh anggota geng motor itu.
"Nggak, lo nggak mungkin ngelakuin ini di belakang gue!" Ucap Devan bermonolog sendiri. Dengan rasa penasaran tinggi dan keberanian yang sudah ia siapkan, Devan mendekati kumpulan orang itu. Semua pasang mata teralihkan ke arah Devan, penasaran dengan sosok yang tiba-tiba muncul ini siapa.
"Jelasin ke gue semuanya, Ga." Ucapnya dengan lantang.
Sosok yang di panggil Bos tadi menoleh ke arahnya. "Devan?"
"Lo tahukan kalau gue nggak suka geng motor, dan lo juga punya janji ke gue kalau lo nggak bakal ikut geng motor dan hanya sebatas pembalap aja!"
Laki-laki itu merubah raut wajahnya yang semula sendu menjadi garang. "Asal lo tahu, ini hidup gue. Terkait lo sahabat gue, punya hak apa lo larang hidup gue?!"
"Ga, lo udah janji ke gue waktu itu." Laki-laki yang di hadapan Devan saat ini adalah Sagara.
Mereka sudah membuat janji kalau mereka hanya akan menyukai balapan dan tidak berkeinginan untuk bergabung dengan geng motor dan Devan sudah menyematkan kalimat itu di hati dan ingatannya. Namun yang sekarang ia lihat, Sagara tidak menepati janji itu dan malah bergabung dengan geng motor.
"Gue muak sama hidup lo yang ngebosinin. Hari-hari lo belajar, dan malamnya balapan. Nggak ada bedanya dengan gue yang gabung ke geng motor, jangan munafik lo Van." Balas Sagara membuat panas hati Devan.
"Lo kenal dia bos?" Sagara menoleh ke anak buahnya dan tersenyum. "Gue nggak kenal!"
"Ga!"
"Perlu kita hajar nggak bos?"
"Hmm... Kalian bersenang-senanglah dengan cowok ini. Lakuin semau kalian dan jangan biarkan cowok ini lolos dengan mudah."
Devan menggeleng tidak suka, bagaimana bisa sahabatnya ini berubah dalam sekejap. Padahal tadi pagi mereka baik baik saja.
"Saga, keluar dari geng ini Ga. Gue tahu lo nggak punya niatan gabung. Ayo balik ke sirkuit Ga!" Devan berteriak dan itu berhasil membuat Sagara yang akan pergi menoleh.