12. Pembunuh

149 24 2
                                        


Untuk apa saya ada jika keberadaan saya tidak di butuhkan?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Untuk apa saya ada jika keberadaan saya tidak di butuhkan?

~Violin Arta Ghea~


🍁🍁🍁

Hari ini adalah hari minggu, otomatis sekolah libur, dan ini merupakan kesempatan baik bagi Vio. Karena dengan begitu dia bisa bebas tidur tanpa gangguan dering ponsel dari Rey yang selalu berusaha membangunkannya.

Namun sepertinya harapan Vio harus pupus kala kedua orang tuanya kembali bertengkar. Ini masih pagi, bahkan sinar matahari saja baru muncul, tapi mereka kembali bertengkar tentang hal sepele yang tak berujung.

"Bagus inget rumah ya, aku kira mas lupa jalan pulang ke rumah" Sinis Risa kala suaminya baru saja pulang ke rumah. Angga memutar matanya jengah, dan langsung duduk begitu saja di kursi yang tersedia di ruang makan.

"Udahlah mah. Aku lagi males bertengkar. Harusnya suami kalo pulang itu di manja bukan di omeli kaya gini" Risa berdecih mendengar itu.

"Emang siapa yang ngajak bertengkar? Kamu pikir aku nggak capek mas? Aku juga kerja,aku juga capek mas."

"Mah? Kan udah berapa kali aku bilang? Harusnya kamu itu di rumah aja, ngurus rumah sama anak, bukan keluyuran sama temen-temen kamu itu." Risa melotot tidak suka dengan ucapan sang suami.

Vio yang merasa terusik pun keluar kamarnya. Vio berdiri di pembatas tangga lantai 2 di depan kamarnya. Muak sudah pasti, karena setiap kali ke dua orang tuanya dirumah selalu saja ada pertengkaran diantara mereka.

"Keluyuran kamu bilang mas? Aku ngelakuin ini semua juga demi Vio mas?"

"Dengan dandanan kamu yang kaya gini, kamu bilang demi Vio?" Angga menjeda ucapannya, lalu tersenyum smirk. "Atau mungkin kamu dandan kaya gini karena kamu ada laki-laki lain di belakang aku?"

Risa menatap tajam sang suami. Dia tidak terima jika dia di tuduh punya laki-laki lain. Sedangkan Vio yang masih setia melihat dari atas pun tercengang mendengar itu.

"Jangan ngawur kamu mas, atau mungkin kamu yang punya simpanan di belakang aku, karena kamu jarang pulang atau kamu suka main_ "

PLAKK

Satu tamparan berhasil lolos di pipi mulus milik Risa. Risa tercengang, tangannya bergerak memegangi pipinya yang sepertinya sudah merah karena tamparan itu.

"Jaga ucapan kamu, aku_" Belum sempat Angga menyelesaikan kalimat, namun sudah terpotong oleh suara tepukan dari seseorang.

PROKK... PROKK... PROKK

Still With Wounds (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang