35. Bahagia yang Sebenarnya?

100 12 16
                                        


Jangan terlalu hening, luapkan Semuanya, kamu berhak mendapatkan teman cerita, yaitu aku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan terlalu hening, luapkan Semuanya, kamu berhak mendapatkan teman cerita, yaitu aku.

~ Arkana Rivandi Alinskie ~











🍁🍁🍁

Kepergian Vio dari sirkuit membuat Arkan semakin khawatir terlebih Vio memilih pergi dengan berlari. Akhirnya Arkan memilih menyusul Vio dengan mengendarai motor dengan harapan bisa menyusul Vio dengan cepat.

Setiap pinggiran jalan sudah Arkan lewati, hingga akhirnya Arkan berhenti di sebuah taman untuk beristirahat dan mencoba menghubungi Vio. Sampai akhirnya Arkan mendapati sosok yang ia cari di tengah-tengah taman.

Dengan tergesa-gesa Arkan berlari menghampiri Vio yang tengah duduk melamun di taman. Saat sudah dekat Arkan segera memeluk tubuh gadisnya itu, ia tidak mau Vio-nya merasa sendiri, ia ingin selalu ada untuk Vio.

"Jangan tiba-tiba pergi Vi, aku khawatir sama kamu."

Vio yang semula kaget dengan seseorang yang tiba-tiba memeluknya, dengan perlahan tangan Vio memegang erat baju belakang Arkan. Untuk pertama kalinya seseorang ada untuk Vio.

"Nangis Vi, nangis aja. Luapkan semuanya kekesalan kamu. Asal jangan merasa kamu sendiri, masih ada aku Vi."

Saat ini tangis Vio pun semakin pecah. Dengan perlahan juga Arkan mengusap surai halus Vio untuk menenangkan. Semakin Vio terisak, semakin pula Arkan mengeratkan pelukannya. Tanpa sadar Vio kehabisan nafas karena Arkan terlalu erat memeluknya. Vio memukul punggung belakang Arkan, agar menyadarkan laki-laki itu jika pelukannya terlalu erat.

"A.aarr... Pelukan ell.. Loo... " Mendengar itu Arkan pun melepas pelukannya. "Nafas gue habis."

"Nggak Vi, ayo nafas lagi. Aku nggak mau nafas kamu habis sekarang. Aku masih ingin kamu ada Vi."

Ha? Yang benar saja, padahal kan nafas Vio hampir habis karena Arkan yang memeluknya sangat erat. Sungguh laki-laki ini memang tidak punya rasa bersalah sama sekali.

"Lo meluknya terlalu erat Ar." Ucap Vio dengan nafas yang belum teratur sepenuhnya.

"Maaf." Ucap Arkan lirih. "Jangan sedih lagi Vi, jangan bebanin pikiran kamu dengan masalah Rey ataupun Teo. Lebih baik sekarang kamu ikut aku aja."

"Kemana?" Tanya Vio yang tidak mendapat jawaban dari Arkan. "Lo mau culik gue?" Tanya Vio lagi.

"Aku tahu kamu bisa jaga diri kamu, kalau aku beneran nyulik kamu ya kamu tinggal lapor polisi aja kan beres."

"Ar?"

"Ya..."

"Makasih."

"Nggak tahu buat apa, tapi sama-sama."

Still With Wounds (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang