Hukuman Kedua

145 9 0
                                        

Tok Tok Tok

Sasha bangkit dari tempat tidurnya dari merebahkan badannya setelah hari yang melelahkan tadi siang. Sasha menatap jam di dinding kamarnya dan terlihat jam menunjukkan pukul 8 malam. Masih terlalu dini untuk tidur. Perlahan Sasha pun bangkit dan menyeret kakinya menuju pintu utama.

Sasha membuka pintunya dan seorang lelaki tengah berdiri di sana, membelakangi pintu. Tak lama, lelaki itu pun berbalik dan Alex melemparkan senyumannya. Senyuman yang dia lihat di foto di atas meja kerjanya tadi siang.

Sasha segera merubah raut wajahnya menjadi tegang. "Tu.. Tuan Alex?"

"Jangan konyol! Selama tidak di kantor panggil saja aku Alex seperti biasa kau memanggilku!" kata Alex lalu melangkah dan Sasha pun melebarkan pintunya membiarkan atasannya itu masuk.

Sungguh Alex yang berbeda dengan yang menghukumnya di kantor. Dia bahkan membawakan dua kotak mie dari restoran korea yang dia lewati.

"Kau pasti belum makan malam!" kata Alex lalu menyiapkan dua kotak mie itu. Satu untuk dirinya dan satu lagi dia sodorkan pada Sasha.

Sasha masih berusaha mencerna apa yang terjadi. Dia membuka lemari esnya dan membawakan dua kaleng cola, lalu duduk di hadapan Alex yang tengah menyantap mie dengan nikmat di dining area.

"Alex, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Sasha pelan-pelan.

"Hm?" Alex tak menghentikan kegiatan makannya.

"Apa... apa kau memiliki kelainan psikologi?"

"Apa maksudmu?" Alex mulai memperhatikan Sasha.

"Mungkin, semacam bipolar atau kepribadian ganda?"

Alex menelan mie yang telah dikunyahnya lalu tertawa terbahak-bahak. Sasha semakin yakin atas dugaannya.

Alex membuka kaleng colanya dan meminumnya. "Apa maksudmu?" tanya Alex setelah mulutnya bersih dari makanan.

"Kau sangat berbeda. Dirimu di kantor dan di sini, saat ini. Mungkinkah kau memiliki kepribadian ganda?" jelas Sasha.

"Hahaha... well, mungkin kau benar!" jawab Alex.

Sasha terpaku mendengar jawaban mencengangkan dari Alex.

"Di kantor aku harus serius dan fokus. Sementara di luar kantor, aku bebas mengekspresikan diriku," tambah Alex.

Sasha mengangguk. "Ya, di kantor kau harus menjaga wibawamu yang seperti monster itu!"

Sasha merutuki mulutnya yang asal bicara. Alex jelas-jelas mendengar kata yang diucapkan Sasha barusan.

"Apa? Monster?" Alex mengangkat kedua alisnya.

"Tidak-tidak, aku asal bicara! So, dari mana kau tahu dimana aku tinggal?" Sasha berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Kau sudah lupa kalau aku ini bosmu? Tentu aku punya akses data ke setiap karyawanku," jawab Alex sambil melanjutkan kegiatan makannya.

"Oh ya, kau benar."

Alex selesai dengan makanannya. "Aku ke sini untuk menyampaikan hukumanmu yang selanjutnya."

"Uhuk! Uhuk!" Sasha tersedak mie yang dikunyahnya. Segera dia meraih tisu dan menutup mulutnya. "Bukan, bukan kepribadian ganda. Sepertinya dia seorang psycho!" gerutu Sasha dalam hati.

Sasha meraih cola dan meminumnya untuk meredakan tenggorokannya. "Apa hukumanku selanjutnya?"

"Aku ingin kau ikut menemui ibuku, sebagai tunanganku."

Sasha ternganga. "Apa?"

"Ibuku sakit, dia ingin melihatku membawa seorang pendamping. Aku bisa saja mencari wanita bayaran yang bisa berakting, tapi aku ingat kau masih terikat utang hukuman," kata Alex seraya bersiap untuk beranjak dari tempat duduknya. "Selagi ada yang gratis, kenapa aku harus membayar seseorang?"

Alex tersenyum jahat. "Persiapkan baju-bajumu. Kita akan menginap di rumah ibuku selama satu minggu!"

Alex pun pergi dari apartemen itu. Sasha hanya termenung di mejanya dengan nyawa yang melayang-layang. "Apa hukuman ini setimpal dengan keterlambatanku yang hanya lima belas menit?"***Dapur apartemen Dean saat ini terlihat berantakan dengan berbagai bahan makanan di meja. Mia sedang bereksperimen dengan semua bahan makanan itu untuk membuat hidangan makan malam yang lezat.

Semenjak pernikahannya, Dean sama sekali tidak pernah menyentuhnya sebagai seorang suami terhadap istri pada umumnya. Meski demikian, Mia masih tetap berusaha menjadi sosok istri yang baik untuk suami tercintanya itu.

Setelah perjuangan susah payahnya, akhirnya Mia berhasil membuat lasagna dan salad untuk makan malam. Dia membereskan kekacauan yang dibuatnya di dapur kemudian menata makanan di meja makan. Perutnya sudah mulai bersuara, namun dia tidak akan menyentuh makanan itu sebelum Dean pulang. Untuk mengganjal rasa laparnya, Mia pun membuatkan segelas susu untuk kesehatan kandungannya.

Sambil meminum susu, dia mengusap permukaan kulit perutnya. Tubuhnya yang langsing membuat kehamilan mudanya mulai terlihat. Perutnya sudah mulai membuncit. Tak disangka, dia merasakan kegembiraan dengan kehamilannya itu meski Dean selalu membuat hatinya sakit.

Setelah selesai minum susu, Mia pun kembali duduk di meja makan dan menunggu suaminya pulang.

"Kenapa dia lama sekali?" ucap Mia saat melihat jam di dinding yang sudah lebih dari waktu yang seharusnya Dean pulang.

Mia menatap makanan di meja yang mulai dingin, dadanya terasa sesak. Mia menunduk dan matanya terasa perih. Cinta membuatnya sering menangis akhir-akhir ini. Pernikahan impiannya adalah hukuman bagi keegoisannya. Namun selama dia masih bersama Dean, dia akan selalu berani mengambil resiko apaun itu.

Mia memasukkan makanan yang dimasaknya ke dalam lemari makanan. Jika Dean pulang nanti, dia akan menghangatkannya di microwave. Mia beranjak ke sofa untuk menonton televisi sambil menunggu Dean pulang. Semakin larut, Dean belum juga pulang. Mia masih bertahan di sofa. Karena lelah, dia pun memejamkan matanya.

Dean pulang pukul satu dini hari. Saat dia masuk ke apartemennya, dia melihat televisi menyala dan Mia tertidur di atas sofa. Selama beberapa detik, Dean memperhatikan wajah Mia yang terlihat sangat lelah.

"Apa aku terlalu berlebihan padanya?" gumamnya, lalu Dean menggeleng. "Tidak. Mia pantas mendapatkannya. Dia yang menginginkan penderitaan ini."

Dean mematikan televisi kemudian masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Setelah siap dengan piyamanya, Dean pun berbaring di tempat tidur. Di sampingnya, terlihat kosong. Dia masih membiarkan Mia tidur di sofa. Dean merindukan Sasha di sampingnya, namun Sasha sudah sangat jauh untuk dapat digapainya kembali. Semuanya sudah tidak berarti tanpa Sasha.

Pikiran Dean kini mulai terganggu dengan kehadiran Mia di hidupnya. Meski dia sudah sangat lelah dan ingin tidur, tapi perasaannya tidak tenang. Dia pun segera mengambil selimut lalu keluar dari kamarnya.

Dean menghela nafas, lalu melangkah ke arah sofa kemudian menyelimuti Mia.

"Dean, maafkan aku. Aku mencintaimu," ucap Mia dengan mata tertutup.

Dean terdiam. "Bisa-bisanya dia mengigau seperti itu!" ucap Dean dalam hati.

Dean terpaku menatap wajah Mia yang cantik. Sudah lama dia tidak melihat wajah Mia dengan make up. Ternyata dia lebih menyukai Mia yang polos dan sederhana seperti ini. Segera Dean menepis pikirannya dan kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.

***

Days to LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang