[2] Belajar dari ketidakmungkinan

45.5K 5.2K 27
                                        

Louisa memberitahu pada Catarina tentang kepergiannya selama tiga hari ke kota. Catarina diminta untuk mengawasi Archeron dalam latihan. Archeron sudah diperbolehkan untuk diberi minum, tapi hanya dua kali sehari itu pun cukup satu gelas sebab Louisa masih belum mendapat kabar baik mengenai berhasilnya Archeron memegang pedang.

"Pastikan kau mengawasinya." Tegas Louisa sebelum memasuki kereta kuda didepannya.

Catarina mengangguk. "Sesuai perintahmu, Lady"

"Katakan padanya bahwa diberi minum bukan berarti aku mengampuninya. Dia harus berusaha lebih keras, dia harus bisa sempurna dalam memegang pedang."

Catarina meringis kecil. Ia hanya menganggukkan kepala dan melihat kepergian Louisa setelah wanita itu memasuki kereta kuda yang perlahan menjauh dari perkarangan istana.

"Hati-hati di jalan, Lady!" Catarina berteriak kencang sambil mengangkat tangan kanannya dan ia lambai-lambaikan cepat.

Sebagai manusia pada umumnya, Catarina tak habis pikir mengetahui betapa kejamnya sikap Louisa sebagai ibu kandung Archeron. Kalau sudah begini sih namanya bukan tegas, melainkan menyiksa anak. Pantas saja Archeron menjadi rusak sekali dikemudian hari, tetapi Catarina sudah berjanji dengan mengepalkan tangannya seolah menggenggam seluruh nyawanya disana.

"Aku akan memperbaiki kehidupanmu, Acheron. Itu sumpahku!" batinnya mengucapkan lalu kakinya berbalik dan kembali masuk ke dalam istana.

Sambil menyeka keringat di dahinya, Catarina kembali menuju ruangan Archeron berada sambil membawa beberapa roti karena sejauh ini hanya makanan itu yang bisa ia bawa. Itupun dari makan siangnya.

Mengemban tugas mengawasi Acheron membuat Catarina terbebas dari tugas lainnya sebagai pelayan di istana ini. Louisa mau Catarina memberitahu padanya perkembangan belajar memegang pedang yang sebenar sudah tidak Archeron lakukan.

Archeron menyerah. Ketika Catarina masuk ke ruangan itu saja, Archeron malah duduk santai di jendela sambil menatap ke arah langit dan menyaksikan burung-burung yang terbang bebas di angkasa. Kelihatannya Archeron iri, wajar saja karena kehidupan istana seperti neraka baginya.

"Kau mudah putus asa ya" celetuk Catarina mengalihkan padangan Archeron serta mencuri atensi laki-laki kurus itu.

"Katanya seorang pangeran, kok lemah sih?" cibir Catarina malah menyiramkan bensin pada kobaran api yang mulanya kecil.

Catarina meletakkan makanan dan minuman yang dibawanya ke atas meja kecil didekat jendela dekat posisi Archeron sedang bersantai disana. Archeron yang tak terima dikatai terus sejak kemarin, bukannya mengawasi 'si Catarina' ini malah mengajak adu mulut setiap hari.

"Jika sudah selesai keluarlah dari sini" ucap Archeron datar.

Catarina terkikik sedikit. "Kau malu ya kalau ada orang yang melihat tanganmu tremor saat memegang pedang?"

Wajah Archeron memerah. "Ti-tidak begitu ya!"

"Lalu apa?" sahut Catarina berkacak pinggang.

Archeron berdecak. "Pergi saja. Ini perintah"

"Nyenyenye"

"Mengesalkan ya" Archeron menoleh dengan wajah horor.

Untuk menutupi ekspresi terperanjatnya, Catarina memalingkan wajah. "Habisnya kau terlalu pengecut sih."

Archeron tak membalas perdebatan, terlalu waras. Masih waras, jadi dia mengalah.

"Akan kuajari nih. Lihat ya"

Catarina menghembuskan nafas pelan lalu mengambil pedang yang tergeletak disudut ruangan. Memegangnya dengan tangan kiri karena kebetulan Catarina kidal, namun bisa menggunakan kedua tangannya untuk menulis dan melakukan aktifitas karena ia tak ingin membatasi kegiatannya dilakukan dengan tangan kiri saja.

ArcheronCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang