"Putraku kemarilah." Sang Raja memanggil, Archeron yang sedari tadi memperhatikan orang-orang yang bergantian mendekat dan memberi salam kini berjalan menghampiri ayah kandungnya.
Sesosok pria tinggi berambut setengah ubanan berdiri disisi sang ayah. Ayahnya mengenalkan laki-laki itu sebagai pamannya yang berkunjung dari tanah yang jauh entah dimana sebab hampir tidak pernah sekalipun Archeron mendengar tentang tanah itu.
"Jim, ini putraku Archeron dan Archeron cepat beri salam kepada pamanmu." Ucap sang ayah menitah setelah memperkenalkan mereka berdua.
Archeron mengangguk patuh. Ia membungkuk sebanyak sembilan puluh derajat dalam waktu lima detik sebagai bentuk memberikan hormat kepada pria dengan senyum kharismatik itu.
"Kau sudah besar ya?" Uncle Jim mengulurkan tangannya menyentuh helaian rambut Archeron namun ia tersentak ketika ada sengatan listrik pelan yang tercipta seakan baru saja terjadi tabrakan energi tak kasat mata.
"Ada apa paman?" tanya Archeron mendapati ekspresi Uncle Jim berubah menjadi tak enak.
Pria itu lantas tertawa renyah. "Tidak apa-apa hanya kaget saja karena rambut orang-orang disini sangat halus." Jawabnya membual.
Archeron mengangguk-angguk saja. Ia tak berniat merespon dengan kata selain, "ohh begitu..." lalu atensinya kembali ke arah aula lebih tepatnya ke arah rombongan para pelayan yang sibuk berlalu lalang tapi tak satupun ada eksistensi Catarina disana.
"Archeron," Uncle Jim memanggil.
Archeron memutar kepalanya lebih tepatnya mendongak ke arah pria yang lebih tinggi dua puluh centi darinya itu. Ia menjawab, "ada apa paman?"
Senyum misterius tercetak di bibir Uncle Jim, pria itu mendekat lalu berbisik. "Aku datang bersama putriku. Suatu kehormatan bila anda sebagai putra mahkota bersedia mengajak putriku yang nampak bosan jalan-jalan sebentar."
"Aku sedang berada dalam acara, paman."
"Yang Mulia Raja tidak akan keberatan kalau putra mahkotanya dipinjam sebentar untuk mengajak keponakannya berjalan-jalan, kan?"
"Tentu saja." Raja tersenyum ramah, ia menatap Archeron dengan tatapan menitah yang tak bisa dibantah oleh laki-laki itu disusul dengan kalimat, "Archeron lakukan yang pamanmu minta."
Mencoba tersenyum di tengah moodnya yang buruk, Archeron menghela nafas sepelan mungkin lalu berkata. "Baik ayah." Kemudian berjalan meninggalkan tempat duduk anggota kerajaan untuk menghampiri seorang gadis atau lebih pantas disebut sebagai seorang wanita dewasa yang nampak berdiri dan menatap ke arahnya sejak tadi seakan memang sudah menunggu kedatangan Archeron.
"Emmm... nona? kak?" Archeron menyapa tapi dengan cara yang tidak ramah, wanita itu terlihat mengerutkan keningnya tak suka tapi tetap berusaha memberikan senyum terbaiknya.
"Namaku Sisilia." Ujarnya memperkenalkan diri lalu memberikan hormat dengan membungkuk. "Salam kepada Yang Mulia Putra Mahkota."
"Terimakasih." Balas Archeron seadanya. "Ayah anda meminta saya mengajak anda berkeliling agar tak bosan. Anda bersedia?"
Sisilia tersenyum lebar bersiap memberikan tangannya akan tetapi Archeron malah berjalan melengos mendahuluinya tak sesuai dengan ekspektasi dalam kepalanya.
Sisilia sampai terlihat seperti orang bodoh yang menatap kosong ke arah tangannya yang terangkat, dalam posisi akan ia berikan pada Archeron tetapi nyatanya laki-laki itu sama sekali tidak mengulurkan tangannya ataupun melihat tangan Sisilia.
Mau tak mau Sisilia berjalan cepat menyusul Archeron yang sudah lebih dahulu meninggalkannya.
Sambil berjalan melewati satu per satu ruang bagian istana, Archeron menjelaskan sesingkat mungkin seperti hanya memberitahu ini ruangan sidang, itu jalan menuju dapur, lorong menuju taman, kamar-kamar kosong untuk tamu kerajaan, paviliun yang bisa dilihat dari luar jendela, dan tangga menuju rooftop istana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Archeron
Fantasy"Tadinya aku benci sekali pada antagonis bajingan sepertimu, tapi sekarang aku tahu semenjijikan apa kehidupan yang kau jalani. Archeron De Louis, aku bersumpah akan membawamu ke tahta!" *** Archeron De Louis, karakter antagonis kejam dalam sebuah...
