[7] Luka dan gadis itu

36.5K 4.6K 45
                                        


Catarina sibuk menumbuk herbal yang didapatnya dari ahli kesehatan. Semalam dia mengetahui luka tangan kiri Archeron robek lagi. Penyebabnya sudah pasti akibat memaksakan diri bertanding pedang dengan Martis kemarin.

Bukannya Catarina melarang Archeron berlatih pedang, namun melihat kondisinya mengenaskan saat ini setidaknya Archeron harus memperhatikan dirinya sendiri baru melakukan unjuk gigi dengan menantang seluruh negeri pun tak masalah.

Kalau terus begini sama saja Archeron bunuh diri.

Catarina lagi-lagi menghela nafas panjang, entah untuk ke berapa kalinya pagi ini. Sebab mau diomeli sampai mulutnya berbusa sekalipun, Archeron tidak akan dengar. Status mereka saja sudah jauh berbeda, pelayan dan majikan. Sekalipun memberi saran untuk kebaikan, mana ada majikan setuju nasihat pelayan.

"Akh!" ringis Archeron saat tangannya ditarik cukup keras lalu lengan bajunya digulung kasar.

"Kalau tidak ikhlas, tidak usah mengobati." Archeron mendesis sinis ditengah kesakitannya kala tumbukan herbal itu bereaksi.

Catarina mendengus. "Bisa tidak sekali saja kau mengerti kondisi tubuhmu sendiri? kau tidak mampu, jangan bertingkah sok jagoan selagi kau masih bocah." omelnya mengeluarkan unek-unek yang ditahan sejak tadi.

Archeron membuang muka. "Bukan urusanmu" tandasnya memicu amarah Catarina.

Gadis itu berdiri setelah mengikat perban ditangan Archeron. Dilihat dari wajahnya yang memerah, Catarina tak tahan menampung kekesalan. "Bukan masalah antara itu urusanku atau bukan, tapi itu masalah kesehatanmu. Aku bisa saja dibunuh jika kamu mati dengan tuduhan aku tidak becus merawat bocah ingusan sepertimu!"

"Tinggal katakan pada ibuku, kau mengundurkan diri." Balas Archeron sinis.

"Duh, anak sialan ini.." Catarina menyipitkan matanya, kalau saja ia bisa hidup dengan masabodo didunia ini sudah dilakukannya sejak awal.

"Archeron.. dengarkan aku," suara Catarina menurun satu oktaf, tidak setinggi satu menit lalu. "Kau bisa menunjukkan kehebatanmu dengan bertanding bersama siapapun, tetapi pikirkan satu hal ini. Tidakkah memalukan jika kau pingsan setelah bertanding?"

Archeron hanya bocah 14 tahun. Catarina mengulang fakta itu dalam otaknya, ia tidak boleh terbawa suasana dan marah-marah atau hubungannya dengan Archeron akan semakin rumit. Catarina harus berpikir seperti anak 14 tahun meski usia sebenarnya sudah mencapai 19 tahunan.

Kepala Archeron menggeleng pelan. "Itu memalukan" gumam Archeron lirih.

"Jika pertandingan itu disaksikan banyak orang, besoknya kamu sudah menjadi bahan gunjingan paling hangat diseluruh wilayah Raven. Mau begitu?"

"Tidak."

Perlahan Catarina menemukan kunci untuk berkomunikasi yang baik dan benar pada Archeron agar remaja yang lebih cocok disebut bocah itu tidak bertindak gegabah dan membahayakan nyawanya sendiri.

"Pagi ini mau kubuatkan sarapan apa?" tanya Catarina mendadak ramah, Archeron mengernyit curiga.

"Kau bisa memasak?"

"Aku diremehkan sekali sih." gerutu gadis itu lalu berdiri menuju meja kecil dimana terdapat sebuah keranjang berisi bahan makanan.

"Hanya bisa memasak satu jenis makanan saja bangga" sindir Archeron membuat wajah Catarina tertekuk menggemaskan.

"Dasar bocil!"

"APA!?"

"Tuli ya?" ejek Catarina sengaja.

Terbukti Archeron kesal dan balas meneriakinya. Ya, meskipun Archeron menjadi lebih kasar tapi setidaknya lebih baik daripada Archeron yang pertama kali Catarina temui. Saat itu Archeron menangis, memohon untuk diampuni dan tidak dipukuli.

ArcheronCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang