"Selina? kau ada disini?" keterkejutan nampak jelas di wajah Louisa saat menemukan tunangan dari putra pertamanya berada di ruang makan duduk istana usai menyelesaikan makan siang ditemani pelayannya.
"Ratu..." Selina tersenyum hangat lalu membungkuk 90° lalu menatap Louisa lembut. "Senang bisa bertemu dengan anda disini, Ratu."
Louisa mengangguk menerima penghormatan dari Selina. "Senang bertemu denganmu juga, putri." balasnya hangat tetapi dengan intonasi tanda tanya seolah Selina seharusnya tidak berada disini.
"Ah.. kalian sudah kembali?" sembari mengedarkan pandangannya mencari seseorang, Louisa menanyakan hal yang justru membuat Selina mengepalkan tangan diam-diam.
"Aku merasa pusing tadi jadi, aku bilang tidak bisa ikut lalu pangeran mengajak orang lain" ujarnya menjawab sembari melihat ke arah lain, menyembunyikan ekspresi geramnya dibalik wajah lugu itu.
"Apakah kau menyetujui hal itu?" tanya Louisa peka begitu menangkap ekspresi tidak suka yang ditampilkan Selina meski hanya kurang dari sedetik. "Saat tunanganmu mengajak gadis lain menjadi patnernya, kau setuju?"
Selina menunduk. Menggigit bibirnya dengan mata memerah yang ia sembunyikan dengan berkedip beberapa kali lalu menjawab. "Aku setuju karena gadis itu sangat menyedihkan, aku jadi merasa kasihan dan membiarkannya ikut festival."
Louisa tersenyum lembut seraya mendarat usapan dipuncak kepala Selina. "Kau memang gadis rendah hati yang cocok sekali dengan putraku. Aku beruntung memilikimu sebagai calon menantuku, putri Selina"
"Aku juga beruntung memiliki Ratu sebagai keluargaku" balas Selina seadanya, ia memandang Louisa dengan tatapan yang tak bisa di artikan seperti sedang melihat apa tetapi tatapan itu cukup dalam hingga Louisa pergi bersama para pelayannya.
"Bukankah dia terlalu tua untuk dipanggil Lady? Dia juga sudah menikah, sudah bukan gadis remaja lagi." celetuk Irina, pelayan pribadi Selina yang seumuran sama dengan gadis itu.
Selina masih menatap pada punggung Louisa yang menjauh. "Entahlah tapi kurasa karena Ratu dulunya adalah Putri tunggal kerajaan ini sedangkan Raja merupakan orang luar yang menikahi Ratu, jadi panggilan Lady sudah dibiasakan meskipun dia sudah menikah dan merupakan seorang Ratu sekarang."
Irina mengerutkan kering nampak memikirkan sesuatu tetapi kemudian mengangguk sendiri. "Ah begitu, selamanya meskipun dia telah menjadi Ratu, dia tetap putri dari kerajaan ini. Begitu kan maksudnya?"
Selina menoleh. "Ya, kira-kira begitu."
"Apa putri benar-benar tidak masalah saat pangeran Martis memilih gadis pelayan itu sebagai patnernya?" tanya Irina kembali mengingatkan Selina pada kegeramannya.
"Tentu saja tidak." Selina melepaskan kepalan tangannya yang sudah memerah, kedua matanya memancarkan aura kebencian yang kental. "Maka dari itu kukirim beberapa prajurit dari kerajaanku untuk menculiknya dan membuangnya terserah kemana"
Irina tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan, ia berbisik memuji. "Selain cantik ternyata tuan putri cerdik, ya."
Selina hanya tersenyum. Mudah baginya menyingkirkan serangga kecil berterbangan mengganggu zona nyamannya, semua ia menepuk sebuah nyamuk lalu membuangnya. Semudah itu pula Selina akan menyingkirkan Catarina yang sudah berani memasuki zona teritorial kehidupannya dengan mendekati Martis.
• - •
"Kudanya terluka," ucap Catarina sembari menatap ke arah kaki kanan kuda yang sebelumnya mereka tunggangi untuk kembali ke area hutan tempat dilaksanakannya festival perburuan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Archeron
Fantasy"Tadinya aku benci sekali pada antagonis bajingan sepertimu, tapi sekarang aku tahu semenjijikan apa kehidupan yang kau jalani. Archeron De Louis, aku bersumpah akan membawamu ke tahta!" *** Archeron De Louis, karakter antagonis kejam dalam sebuah...
