[22] Ghost in the night

26.8K 3.2K 137
                                        

Sepanjang hari Catarina tidak sempat mengistirahatkan tubuhnya. Malam hari terasa lebih singkat ketika ia letih. Sekali memejamkan mata seakan lima menit kemudian fajar sudah menyingsing.

Maka dari itu Catarina berusaha memanfaatkan waktu tidurnya sebaik mungkin. Setelah selesai menghabiskan malam malam, ia tidur diruangan bersama dengan pelayan yang lain.

Catarina mulai menutup mata. Satu per satu domba terhitung dalam kepalanya. Mula-mula dombanya melompat melewati pembatas. Domba pertama meluncur dengan sempurna, domba kedua juga, domba ketiga mulai menoleh ke arah Catarina. Menjelang domba kelima, bukannya melompati pembatas tapi malah berlari ke arah Catarina dan menerjang.

Deg!

Kedua mata Catarina terbuka lebar seketika. Catarina hampir berteriak ketika mendapati Martis berada diatasnya. Dalam artian pemuda itu sedang duduk disebelah nya dan mencondong ke arahnya berusaha membangunkan Catarina.

"Kau disini?" tanya Catarina dengan suara berbisik waspada.

Martis mengangguk. "Aku butuh bantuanmu untuk mencari buku kuno peninggalan kakek," ucapnya memberitahu dari informasi yang ia dapat ketika menguping dikediaman mantan penasihat kerajaan sewaktu kakeknya masih hidup.

"Dimana buku itu berada?"

"Itu dia masalahnya. Kudengar ada sebuah jalan rahasia melalui perpustakaan istana. Jalan itu akan menempuh siapa saja yang melaluinya akan keluar disebuah hutan. Hanya kakekku dan pemilik magis serupa yang bisa menemukan hutan itu. Disana terdapat sebuah pohon tua yang menyimpan buku rahasia itu, akan tetapi untuk menempuhnya aku perlu raga." Jelas Martis panjang lebar mulai mengarah ke tujuannya menemui Catarina semalam ini.

"Apa isi buku itu? buku itu tahu cara menghidupkanmu kembali?"

"Sayangnya tidak," sahut Martis menggeleng. "Tetapi aku bisa melanjutkan pembelajaran magisnya hingga mencapai fase penyihir lalu aku bahkan tidak membutuhkan raga untuk tetap hidup."

Dirasa paham, Catarina mengangguk-angguk tapi kemudian segera muncul sebuah pertanyaan dalam kepalanya yang langsung ia lontarkan detik itu juga. "Setelah jadi penyihir kau akan simsalabim dan mengubah takdir Archeron sehingga aku tidak perlu capek lagi, begitu?"

Raut wajah Martis berubah panik. Dia menggeleng cepat takut Catarina salah paham dan marah.  "Bukan, tentu mana ada yang seperti itu. Akan tetapi bayangkan setidaknya aku bakal bisa lebih berguna jika berhasil naik ke tingkat penyihir, kan?"

Kening Lisa berkerut, sejenak ia berpikir. "Kau benar. Mungkin saja ada kegunaannya suatu hari. Tapi harus malam ini juga? sekarang?" tanyanya dengan harapan Martis mengatakan tahun depan supaya ia bisa tidur nyenyak akibat capek seharian.

Melihat anggukkan Martis agaknya sirna harapan Catarina untuk tidur tenang malam ini. Ya karena mau tak mau Catarina harus beranjak dari posisinya bergerak secara perlahan supaya tak terdengar oleh siapapun. Takut mengganggu waktu istirahat yang lainnya padahal hampir setiap malam Catarina tak bisa tidur nyenyak.

"Cuacanya dingin," ucap laki-laki itu memberitahu lalu berniat mengambilkan kain selimut atau bisa disebut sebagai kardigan di jaman Catarina namun malah menembus benda itu.

"Pftttt..." Catarina menahan tawanya. Segera ia membekap mulutnya sendiri lalu meraih kain tersebut dan memakainya menutupi punggung serta bahu.

Mereka berdua keluar dari ruangan itu terlebih dahulu sebelum berbincang sembari menuju perpustakaan istana seperti yang dimaksudkan oleh Martis.

"Kau baik-baik saja?" pertanyaan itu meluncur secara alami saat Martis menyadari keringat berlebihan didahi Catarina.

Gadis itu segera mengusap dahinya cepat. "Hanya sedikit kepanasan."

ArcheronCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang