[19] Rambut perak yang indah

25.7K 3.3K 39
                                        


Kepercayaan akan kekuatan turun temurun dari nenek moyang masih melekat sebelum sang kakek meninggal. Martis masih ingat ketika waktu itu ia dipanggil menemui kakeknya yang sedang terbaring tak berdaya menunggu dijemput ajal. Saat itu usianya baru menginjak 6 tahun lalu sang kakek mulai menceritakan dengan singkat kisah kehidupannya dan kerajaan yang kini diwariskan kepada ayah Martis.

"Kakek masih sakit ya?" Martis bertanya dengan polosnya kala itu sementara lelaki tua yang terbaring dihadapannya tersenyum lembut dan menggerakkan tangannya mengusap puncak kepala Martis.

Kakek mengedipkan kelopak mata mengiyakan pertanyaan cucu pertamanya itu. "Dulu dizaman saat kakek masih seusiamu, tak ada satupun anak-anak yang bisa menikmati masa kecilnya dengan bahagia. Melihatmu tumbuh sebesar ini kakek sudah merasa bahagia namun juga cemas"

"Kakek kenapa cemas? aku baik-baik saja, kakek jangan memikirkan aku nanti kakek lebih sakit" ucap Martis meraih tangan sang kakek dari atas kepalanya dan menggenggamnya.

Kakek hanya tersenyum lalu meraih kedua tangan Martis. "Kakek tetap akan menurunkan magis ini kepadamu meskipun sekarang kakek tahu banyak sekali yang menjagamu dan tak akan ada yang membiarkanmu terluka tapi kakek akan tetap menurunkan ini kepadamu untuk menjagamu dan supaya kakek bisa tidur dengan tenang"

"Ka-kakek?" Martis menatap kebingungan setelahnya hanya senyuman dari kakeknya yang ia ingat lalu perlahan rasa pusing disertai cahaya terang seolah menutupi kedua matanya namun samar masih bisa ia dengar suara serak kakeknya yang memberitahu.

"Martis, kelak jika terjadi hal buruk sebelum usiamu menginjak 20 tahun kau tidak akan mati melainkan hidup sebagai siluman dari hewan yang kau ambil rupanya sehingga kau memiliki kesempatan hidup lagi."

Setelah itu semuanya gelap dan hening. Martis ingat mungkin saja dirinya jatuh pingsan karena keesokan harinya diberitakan kabar bahwa kakeknya sudah meninggal semalam setelah berbicara dengan Martis.

Kembali ke masa sekarang, Martis sama sekali tidak menyesal meskipun sekarang dirinya bukanlah manusia melainkan sebatas siluman lemah karena rupa yang ia ambil ialah seekor kucing. Martis justru bahagia karena mungkin kematiannya memberikan harapan baru bagi kehidupan Archeron agar lebih baik.

"Sebelumnya aku tidak mengunakan magis dari kakek dan kau tahu yang terjadi.." Martis menghela nafas dengan wajah murung, ia mulai menunduk mengingat memori kelam yang harus ia jalani secara berulang.

"Dia mati, mati, mati, mati, dan mati karena kejahatannya lalu aku juga mati diusia ku yang sudah genap 20 tahun sehingga saat itu aku mati sungguhan tetapi jiwaku seperti menonton kehidupan Archeron sampai akhirnya dia dieksekusi." Lanjut Martis dengan dada mencelos.

Catarina duduk tepat disebelah Martis, wajahnya juga sangat rumit saat ini sebab bagaimanapun juga mengetahui Martis tahu dunia ini hanya sebatas cerita masihlah sangat mengejutkan.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Catarina melewati topik yang mungkin akan membuat Martis semakin sedih.

Martis mengangguk, ia menoleh kepada Catarina sambil tersenyum hangat. "Iya sudah lebih baik. Setidaknya sekarang pandangan ibu akan berubah tentang Archer dan aku tidak perlu terlalu khawatir karena ternyata kau juga tahu bahwa dunia ini hanya novel. Tadinya kupikir aku harus terus pura-pura dan kembali menyaksikan kematian adikku, tetapi berkatmu alurnya perlahan berubah."

Catarina balas tersenyum. "Mungkin aku punya banyak sekali pertanyaan tetapi yang penting sekarang bukanlah jawaban pertanyaan itu melainkan; ayo kita beri akhir yang baik untuk Archeron!"

"Terimakasih" sahut Martis haru seraya mengusap bulir bening yang membasahi pipinya.

"Kau ini cukup emosional ya" komentar Catarina mengalihkan pembicaraan, "Padahal di novelnya kau katanya lumayan keren sih."

ArcheronCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang