[31] She's not the main character this time

20.5K 2.5K 53
                                        

"Piring lamanya sudah dikumpulkan dalam lemari?" Isabel bertanya pada Olivia yang berada tepat disebelahnya sedang mengemasi beberapa camilan ke dalam keranjang untuk dibagikan ke rekannya di ruang tidur sehabis membereskan sisa barang-barang di dapur karena mereka mendapat giliran malam ini.

Olivia mengangguk, ini piring terakhir yang ia bersihkan dan tata ke rak. "Semua beres kak Isabel." Ucapnya pada Isabel yang terlihat mengunci rak berisi bahan makanan lalu berjalan mendekat ke arahnya.

"Beristirahatlah biar aku yang pindahkan kardusnya ke gudang." Ujar Isabel merasa kasihan pada Olivia yang wajahnya terlihat memerah, gadis itu sempat bilang suhu tubuhnya sedikit meningkat sekitar satu jam lalu.

Maka ketika ditawari seperti itu Olivia yang sudah merasa lemas pada kedua kakinya pun mengangguk setuju. "T-terimakasih kak Isabel." Balasnya sedikit lirih lalu terlihat Isabel tersenyum sebelum mengangkat sebuah kardus.

Olivia menghela nafas. Setelah meneguk segelas air dan mencuci wajahnya, ia berniat langsung menuju ruang tidur guna beristirahat. Akan tetapi takdir berkata lain, tiba-tiba saja seseorang menarik pergelangan tangannya dalam satu gerakan cepat.

Sampai tak sempat Olivia berteriak terkejut terutama ketika menyadari sosok pria yang memegang tangannya. Walau dalam posisi seperti hewan ternak yang diseret majikan, Olivia merasa ada sengatan hangat di hatinya.

Ditambah lagi pikirannya jadi sedikit  melayang ke arah masa lalu dimana sempat pada suatu waktu ada seseorang yang meraih tangannya ketika tanpa sengaja mereka berpapasan. Dia tersenyum lalu mengatakan bahwa dia bisa melihat masa depan kemudian dikatakan olehnya tentang takdir Olivia yang akan terikat dengan keturunan kerajaan Raven.

"Dua pangeran akan jatuh cinta kepadamu. Yang satu berada pada sisi gelap dalam artian sikapnya kurang ramah, dingin, sulit ditebak, pemarah, ekspresif tapi dia bahkan bersedia membakar seluruh dunia hanya untukmu. Sementara yang satunya lagi lemah-lembut, murah senyum, manis, mudah menyatakan perasaannya dan cenderung naif. Dia juga sangat baik untukmu tapi bukankah yang akan menghanguskan bumi demi satu orang jauh lebih menarik?"

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. Yang tanpa sadar membuat sudut bibir Olivia berkedut, menahan senyumnya. Olivia bahkan tidak sadar bahwa ia di bawa keluar dari bangunan istana, menuju ke taman yang tadi siang. Dimana artinya hanya akan ada mereka berdua disitu.

"Meskipun kepribadiannya sangat acak dan berantakan tapi dia akan menyodorkan bunga kepadamu untuk pertama kalinya."  Suara seseorang yang waktu itu terngiang lagi tepat ketika Archeron, sosok yang membawanya kemari menghentikan langkah dan berbalik.

Akan tetapi bukan setangkai bunga yang Olivia dapatkan. Tatapan pria dua puluh tiga tahun itu bahkan menusuk tajam ke arahnya bersamaan dengan pedang miliknya yang terangkat. Terarah tepat ke leher Olivia dan apabila ia bergerak sedikit saja maka tajamnya pedang itu bisa berakhir membelah kepala dan lehernya menjadi dua bagian terpisah.

"B-bukan bunga..." Olivia berkata dalam hati dengan keringat dingin memenuhi dahi dan lehernya, mengucur deras bak air keran.

"Apanya yang bunga? pedang begini!" pekiknya masih di dalam hati juga sedangkan Archeron terlihat mengamati.

Keringat dingin membasahi hampir seluruh tubuh Olivia. Saat ini ia kebingungan harus berbuat apa sedangkan nafasnya saja sudah tercekat, ia ketakutan. Belum siap untuk dikirim menemui sang pencipta.

"Aku bertanya mengenai beberapa hal dan kau harus menjawab jujur. Ini perintahku." Ucap Archeron tegas, mata elangnya masih memandang tajam pada Olivia cenderung tak ramah.

Gadis berambut emas itu lantas mengangguk pelan dengan wajah lesu. "Iya Yang Mulia, saya bersumpah atas diri saya sendiri akan menjawab pertanyaan dari Yang Mulia dengan jujur."

ArcheronCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang