06 . Tatapan Elang

731 92 19
                                    

Burung-burung pingai bernyanyi di ranting pohon besar yang berada di taman Istana Olimpus. Beberapa dari mereka terbang ke bingkai jendela, memunggungi sebuah ruangan sunyi yang diisi oleh seorang gadis. Menyiratkan bahwa Valhalla sudah mencapai paginya.

Gadis yang berada dalam ruangan tersebut meregangkan tubuhnya di sebuah kasur berukuran single size. Ia bangkit dari kasur dan merapikannya dalam keadaan setengah sadar. Dirinya yang apik, membuat kasur tersebut tampil seperti sebelum ia tiduri.

"Oh, sudah dirapikan," komentar seorang dewa berambut hitam dengan tahi lalat di dekat bibir kanannya.

"Oh, sudah dirapikan," komentar seorang dewa berambut hitam dengan tahi lalat di dekat bibir kanannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[Y/n] mengusap matanya sambil membalikkan badan. Ia mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih sudah memberiku tempat yang layak untuk menginap di sini."

Pria berambut hitam yang tak lain ialah Hermes, tersenyum ramah. "Sama-sama, Nona. Tuan Zeus hendak ke pedesaan bagian Selatan, saya tahu Anda berasal dari sana. Berkenankah Anda untuk memandu jalan dan memuaskan Kami?"

[Y/n] mengernyit. Ia tak begitu mengerti apa maksud dari kata memuaskan yang Hermes katakan, tetapi bukankah itu terlalu tak senonoh. Atau memang dewa-dewi Yunani senang sekali membuat orang lain salah paham? Atau bisa jadi, memang [Y/n] yang memiliki pikiran nan kotor?

"Apa maksudmu?" [Y/n] meneguk ludah.

Hermes membulatkan mata, lantas tersenyum kembali. "Ayo, diingat. Anda bilang di tempat asal Anda ada sup buah, bukan? Nah, Kami ingin mencobanya. Maka dari itu Kami ingin Anda membuat kami puas dengan membantu Kami membuat sup buah yang lezat seperti apa yang Nona katakan semalam."

[Y/n] menghembuskan napas, lega. "Baiklah, aku berkenan."

***

Kereta kencana melaju melalui hutan yang panjang. Di mana di dalam kereta tersebut diisi oleh tiga pria dan seorang gadis. Ada Ares, Zeus, [Y/n], dan Adamas. Serta tak lupa, pengemudi kereta kencana mereka yang tak lain ialah Hermes.

Heningnya perjalanan menghampiri mereka. Tak ada yang berkehendak untuk mencairkan suasana. Tampak dewa bertubuh hijau dengan surai merah, Adamas, melengos. Ares dewa perang berambut pirang dan memakai helm perang, sama diamnya, ia menyila tangan di depan dada sambil memejam. Terakhir, dewa bersurai putih berperawakan kakek tua mesum duduk di hadapan [Y/n]. Kakek yang tak lain adalah Zeus, sesekali mengedipkan matanya. [Y/n] yang mendapat pelecehan dari Zeus berpura-pura tak melihat, matanya terpejam.

Sungguh, kebejatan Zeus memang benar adanya.

Ketegangan antara diri [Y/n] terjadi. Ia tegang bukan karena menyukai Zeus, tetapi dia jijik dengan adik bungsu Poseidon. Pasalnya, dewa langit ini terus-menerus mengedipkan matanya. Padahal kalau dilihat dari semalam pun harusnya dia mengerti kalau [Y/n] adalah milik sang kakak, Poseidon. Walau kebenarannya tidak, ya, seharusnya dia berpikir kalau [Y/n] milik Poseidon.

✔ Tyrant of the Ocean [ Poseidon X Reader ] || Record of RagnarokTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang