16. Festival Laut

536 89 6
                                    

Suara siulan dan nyanyian menghampiri indra pendengar seluruh rakyat laut. Seluruh anak makhluk laut berenang kian ke mari, menyebar sebuah batu tipis bak kertas berukuran sepuluh kali sepuluh sentimeter yang terdapat guratan pemberitahuan. Dan para pemegang peran penting kuasa laut, berkumpul dalam sebuah ruangan yang memiliki meja persegi panjang, di istana milik Poseidon.

[Y/n] menggeliat, ia menutup mulutnya lantas duduk sambil memasang wajah bantal. Tubuhnya yang setengah duyung akibat peringanan kutukan dari Poseidon, perlahan berubah menjadi wujud dewinya. Gadis itu tersenyum simpul, menatap Benthesikime yang masih terlelap tanpa menangis. Meski dirinya masih kecil dan laut dalam keadaan bising.

"Sebenarnya hari ini ada apa?" [Y/n] mengedarkan pandangan. Ia menatap kalender berbahan batu tipis yang tertempel pada kamar anak bungsu Poseidon dan Amfitrit. Lantas mengernyit, menatap bulan Juni yang dibulatkan. Pada sisi tulisan Juni, terdapat tulisan yang tak terlalu jelas, tetapi [Y/n] mengerti maksud dari tulisan itu. Ia juga tahu bahwa yang menulisnya adalah Rhodes yang masih belajar menulis.

"Festival musim panas?" [Y/n] menjentik dagu, lantas ia tersenyum lebar. Ia pikir semuanya masuk akal mengapa di sebut sebagai musim panas. Sebab, April dan Mei memang masuk ke dalam musim kemarau. Akan tetapi dua bulan itu masihlah masa transisi, tak ada yang mau menjamin bahwa cuaca buruk seperti hujan panjang dan badai tidak akan ada di dua bulan itu. Pertengahan Mei suhu mulai hangat dan bulan Juni palinglah pasti. Takkan ada hujan yang berarti di bulan Juni, suhu hangat juga mencapai kesempurnaan. Maka dari itu, mereka memilih bulan Juni sebagai festival mereka. "Tapi aku baru tahu kalau ternyata dunia laut juga punya festival sendiri. Benthe, mau keluar untuk melihat-lihat?"

Tak ada jawaban ya atau tidak pada anak itu, ia hanya tertawa sambil mengoceh tak jelas. Anak itu duduk sambil menepuk-nepuk tangannya. Dengan begitu, maka [Y/n] menganggap bahwa Benthesikime sangat bersedia untuk melihat-lihat sekitar.

Keluar dari kamar, ia sudah disambut oleh dua pria raksasa berekor duyung hijau. Melihat ukurannya saja membuat [Y/n] bergidik, tetapi percayalah bahwa mereka adalah dua makhluk yang cukup bersahabat. Ya, lebih bersahabat daripada Poseidon.

"Siapa dia, Nereus?" tanya salah satu di antara mereka. Ia memiliki rambut panjang cokelat keriting, tak lupa dengan jenggot dan kumisnya. Tatapan pria itu tertuju pada Nereus yang baru saja menyapa [Y/n], sambil tersenyum, bak pedofil.

"Dia gadis yang kubilang akan dicintai Poseidon," jawab Nereus, enteng. Ia mengacung-ancungkan lima botol wine yang ia pegang di tangan kanannya.

Pria di sisi Nereus manggut-manggut, ia mengajak [Y/n] ikut serta menghadiri rapat. Awalnya Dewi Pencipta enggan, tetapi karena Benthesikime dan pria asing itu tampak gembira kalau [Y/n] ikut. Alhasil, ia menurut. Lagipula, dalam hatinya ia juga penasaran dengan siulan yang sedari tadi terdengar. Sepertinya tujuan dua raksasa itu, menuju ke sana.

[Y/n] mengekor Nerues dan temannya. Perjalanan mereka dipenuhi oleh candaan dua pendahulu penguasa lautan itu. Tak ayal, sesekali saling sikut terjadi. Sampai-sampai terkadang [Y/n] dibuat mundur beberapa langkah, takut terkena serangan lelucon mereka yang pastinya menyakitkan bagi Sang Dewi yang jauh lebih kecil dari mereka.

"Oi, Poseidon! Sudah kuduga Kau di sini. Kau belum ke ruang perkumpulan?" seru pria di sisi Nereus, setelah sampai dan membuka ruang musik milik Tiran Lautan. Pria itu memberhentikan siulan Poseidon yang indah, tetapi tidak dengan suara asing yang terlantun. Ia mendapat lirikan tajam yang sukses menohok hatinya sendiri. Namun, tak ada ekspresi apapun dari pria tersebut. Apa memang para raksasa seperti Nereus dan temannya tak mudah sakit hati dengan sikap Poseidon?

"Huh. Aku tidak akan pergi menuju ruang perkumpulan, Okeanos," jawab Poseidon tak acuh. Pria yang tengah memakai setelan pakaian perang biru ketatnya, melangkah menuju bangku tak bersandar yang berada di depan piano. Ia memejamkan mata, menyila kedua kaki dan tangan. "Dewa tak berkomplot dengan siapapun."

✔ Tyrant of the Ocean [ Poseidon X Reader ] || Record of RagnarokTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang