38. Liontin Biru

280 50 10
                                    

Suara siulan menggema ke seluruh istana Olimpus yang sunyi. Ikan-ikan yang berada di air mancur berdiam, dengan khidmat mendengarkan. Gelombang seluruh lautan yang berada di Midgard, berdesir, membasmi bibir pantai dan batu-batuan. Burung-burung Valhalla, bertebangan dengan syahdu mengikuti suara siulan tersebut.

Siulan itu berbunyi, ketika pasukan Alastor berhasil memasuki gerbang istana. Di mana atmosfer istana terasa amat berat dan mengerikan. Dewa Olimpus yang akan melawan mereka tidaklah main-main.

Usai siulan itu dilontarkan, pada Barat Daya istana Olimpus, ada sekumpulan dewa-dewi yang bernyanyi seriosa. Diiringi lagu perang yang menggema hingga ke seluruh istana. Mereka membiarkan seorang dewa dengan baju biru tua dan trisula di sisinya berdiri, menyambut pasukan Alastor.

Tak ada yang bergerak di antara Poseidon dan pasukan bangau putih. Hingga suara desiran lautan kembali berbunyi. Dan dalam sekejap, seluruh pasukan Alastor tumbang. Menyisakan Alastor dan [Y/n].

Alastor dan dewa berambut pirang itu bertarung dengan kecepatan penuh. Percikan-percikan api menyertai mereka. Tak ada yang mau mengalah.

Istana Olimpus yang mewah, terpotong-potong. Pohon-pohon di sekitar pun tumbang. Gelombang laut mengikuti setiap langkah dewanya. Setiap mata, sekalipun mata dewa, tak bisa mengikuti pergerakan mereka. Pertarungan mereka laksana membentuk area bulat yang bisa menebas siapapun yang ikut campur.

Poseidon memanggil lautnya, menghadirkan tsunami dahsyat yang menerjang Alastor dan teman-temannya.  Ia sungguh tak main-main. Jika Alastor sedikit saja terlambat atau salah langkah, ia pasti mati.

Pertarungan itu terus berlangsung selama setengah hari. Menandakan bahwa Alastor sangatlah kuat. Ia bertekad kuat, membuat Poseidon bergairah dan untuk pertama kalinya, mantan penguasa laut itu menatap Alastor.

Pedang rapier dan trisula laut kembali beradu. Trisula yang terlatih, akhirnya berhasil mematahkan pedang rapier Alastor. Dewi Pencipta yang tahu itu langsung mengeluarkan jurus penciptanya, menghadirkan pedang rapier yang dua kali lipat lebih tangguh dari pedang sebelumnya di tangan Alastor.

Poseidon yang terkejut, akhirnya terluka. Luka berupa sayatan itu tertoreh di pipi. Dewa lautan itu pun mundur, ia menaruh kaki kanannya ke belakang, kembali memasang kuda-kuda. Trisulanya membentuk horizontal. Lantas dengan cepat kembali membingkas, menyerang Alastor. Melukai kembali tubuh Alastor.

Alastor pun tumbang. Namun itu tak meruntuhkan daya tahan dirinya, ia kembali bangkit dan menyerang Poseidon. Poseidon yang telah menduganya, bersiul. Dengan cepat, ia mengayunkan trisulanya ke kiri menuju kanan. Membelah tubuh Alastor, menjadi dua bagian.

"Wanita itu kuambil." Poseidon membingkas, memukul bagian belakang leher dewi yang menjadi satu-satunya perempuan di pasukan Alastor. "Liontin biru yang kau cari itu milikku, bukan Zeus. Dasar sampah. Menyerahlah, Alastor. Kau tidak perlu tersesat lebih jauh."

Pandangan Alastor, perlahan menggelap. Saat ia tak sadarkan diri, Poseidon memanggil Proteus. Makhluk itu menampakkan diri sambil membawa borgol yang ia dapatkan dari Odin. Ikatan borgol itu cukup kuat. Jika ada yang terborgol, sekalipun kekuatannya sekuat cerberus, tetap saja takkan mampu melepaskan diri.

"Bawa dia ke istana Odin," titah Poseidon, usai Proteus memasang borgol itu pada Alastor.

"Baik, Tuan Poseidon." Proteus mengangguk.

***

"Sepertinya Kau melanggar peraturan dewa, ya, Poseidon," sambut Odin, menyila kedua tangan. Di sisi ia berdiri, sudah ada Alastor yang masih tak sadarkan diri. "Aku mulai curiga, Kau menunjukkan kekuatan itu untuk menunjukkan kalau Kau yang terbaik di mata [Y/n]. Baiklah, kali ini para dewa maafkan. Bahkan saking semangatnya Eros mendukung Kalian, dia mengirim dewa-dewi dan para peri yang mau bernyanyi di istana Olimpus. Dengan iming-iming menyambut gadis cantik dari Babilonia."

Poseidon menatap mata [Y/n] yang terpejam, masa bodoh dengan Odin. Sudah lama ia tak merasa intim dengan [Y/n], dapat terlihat jelas bagaimana mata Poseidon berkilau sekarang. Dia bahkan tak merasa lelah, bila harus membawa gadisnya dari istana Olimpus menuju istana Odin.

Odin memasuki lebih jauh istananya, ia mentitahkan seluruh prajurit untuk membawa Alastor ke penjara khusus dewa-dewi Nordik. Lalu membimbing jalan Poseidon, menuju sebuah kamar kosong, sebagai tempat beristirahatnya [Y/n]. Usai menidurkan Sang Dewi di tempat semestinya, Poseidon menyusul dewa-dewi Olimpus lain yang berada di istana Odin.

Mereka berada di ruang rekreasi. Ares dan Hermes asik memainkan catur. Adamas menjadi pengamat pertarungan kedua saudara itu. Zeus dan Odin kembali berbincang. Lalu Eros yang seharusnya bukan menjadi bagian dari Olimpus, berhasil membujuk mereka dan berbaur. Dewa Cinta itu asik berbincang dengan pria berbadan kekar, dengan janggut dan rambut panjang hitamnya. Saat Poseidon memasuki ruangan, dewa berbadan kekar itu meninggalkan ruangan. Ia tak melontarkan sepatah katapun, Poseidon juga tak mengambil pusing.

"Oh, sudah selesai?" tanya Zeus, baru sadar. Pertanyaan dibalas anggukan oleh Odin. "Pantas Hephaetus pergi."

Pria yang baru saja pergi adalah Hephaetus. Dewa Pengrajin yang kali ini bertugas membereskan seluruh tubuh pasukan bangau putih agar tak ada lagi di halaman istana. Sekaligus yang akan memperbaiki istana Olimpus. Dia adalah pria yang temperamental dan pendendam, berbicara dengan Poseidon itu berarti sama saja mempertemukan api dengan api. Maka dari itu, ia tak mengajak ngobrol Poseidon. Atau sekadar basa-basi.

"Ngomong-ngomong, bagaimana menurutmu kekuatan Alastor, Poseidon?" Zeus menatap serius Poseidon.

"Dia tidak mengerahkan seluruh kekuatannya," jawab Poseidon, datar.   "Dia sengaja kalah. Sepertinya ajalku bukan di istana Olimpus. Melainkan di suatu tempat yang tak terduga."

Odin menjentik dagu, ia memincingkan mata. "Kita harus mengirimnya ke Tartaros sege--"

Suara gebrakan pintu, membuat seluruh yang berada di dalam menoleh. Penjaga istana bersama peluh yang membasahi tubuh, menatap seluruh dewa dengan napas tersenggal. Pada dahinya terdapat besatan luka. Lututnya juga terdapat bekas gesekan tanah.

"Tuan Odin! Tahanan baru kita hilang!" seru penjaga itu. Pupil mata Poseidon mengecil, ia berlari. Menyingkir paksa penjaga, melangkah menuju kamar [Y/n] berada.

"Dewa yang hanya kalah sekali dalam hidupnya." Alastor melakukan sarkasme, tangan putihnya membelai pipi [Y/n]. Tatapannya menajam. "Aku masih belum bisa mengalahkannya. Setidaknya, aku harus merasakan sensasi liontin biru itu. Di mana liontin itu, Ayah?"

Alastor menoleh, kaku. Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar, ia mempersempit pandangannya. Bak senyuman tulus malaikat. Ia menatap Poseidon yang berada di ambang pintu. Bokongnya yang sempat menempel di sisi kasur [Y/n], sekarang tak menempel lagi.

"Setelah semua yang Kau lakukan padaku dan [Y/n], [Y/n] tidak akan pernah mempercayaimu. Ataupun membuka hatinya lagi untukmu, Ayah." Alastor kembali menatap [Y/n]. "Dia adalah gadis yang paling mengerti aku. Aku akan membiarkan dia tinggal di sini sementara."

Alastor melangkah, hendak melampaui tempat Poseidon berdiri. "[Y/n] dilahirkan untuk menjadi karmamu, Poseidon. Tak ada artinya lagi Kau memperjuangkan [Y/n]. Kalau berubah pikiran, kembalikan dia kepadaku. Dan suruh Odin untuk mengubah isi kisah yang ia toreh tentangku dan Kau, Ayahku yang malang."

-- bersambung  --

Published : Wed, 28 Sep 2022
Jangan lupa vote dan komen, makasiiii

✔ Tyrant of the Ocean [ Poseidon X Reader ] || Record of RagnarokTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang