Di depan teras sembari menikmati senja yang menyapa
Ku sajikan secangkir kopi
yang kuseduh dengan rindu
Cangkir putih berornamen bunga sederhana
Sesederhana perasaan yang sedang melanda
Secangkir kopi hitam tanpa gula
Sengaja kubiarkan pahit rasa menyapa lidah
Pun pahitnya tidak melebihi senyum yang mengembang di wajah
Senyum sendu penuh rindu
Senja semakin turun menenggelamkan diri
Kopi kini hanya menyisakan ampas didasar cangkir
Seperti itu lah kamu yang hadir kemudian pergi
Seperti hatiku yang disisakan ampas selepas hari itu
Kopi hitam yang sudah tandas
Aku harapkan menjadi pengantar
rindu pahit yang sederhana ini
pulang kepada hati yang kunantikan
Mengetuk pintu, kemudian datang
Kembali
KAMU SEDANG MEMBACA
SUDUT RUANG RINDU
PoesíaSerupa sajak untuk meninggalkan jejak Serupa isi hati yang sepi tak ditinggali Di pojok ruang rindu yang sunyi, aku mencerna setiap hadir yang selanjutnya digantikan oleh pergi. Sudut Ruang Rindu itu, tak pernah sesak terisi.
