Awan-awan menggeliat merebah di rentangan langit
Sebentar berkumpul sebentar kemudian memisahkan diri
Sekejap tebal tak tertembus sekejap kemudian menipis lamat-lamat hampir tak nampak
Kadang seputih kapas dan akhir-akhir ini senang sekali berubah kelabu
Air-air tampungan awan berlomba terjun bebas
Tak peduli bumi masih jauh dijangkau atau sedekat jengkal tangan
Asalkan sampai dan tanah basah
itu artinya ia menang
Padahal tidak ada jatuh yang tak sakit
tapi air hujan malah berlomba menjatuhkan diri
Rupanya angin kencang kasihan pada air dan awan
Bantu segarkan dengan badai yang ia sangkakan adalah hebat
Biar kelabunya awan merata ke berbagai penjuru tempat
Agar air awan terjun di matras tanah yang tepat
Juga rindu untukmu, aku titip tiup agar angin badai mengantarnya ke jurang
Biar jatuhnya jauh dan lupanya adalah hal yang penuh
Tapi apa bisa?
KAMU SEDANG MEMBACA
SUDUT RUANG RINDU
Thơ caSerupa sajak untuk meninggalkan jejak Serupa isi hati yang sepi tak ditinggali Di pojok ruang rindu yang sunyi, aku mencerna setiap hadir yang selanjutnya digantikan oleh pergi. Sudut Ruang Rindu itu, tak pernah sesak terisi.
