2. Starting Point

52.1K 3.8K 301
                                        

I Knew You Were Trouble - Taylor Swift

"Makannya Bruno aman 'kan, Mi?"

Merasa sulit menelepon sambil berjalan menuju parkiran, Briana berhenti sebentar. Mengapit ponselnya di antara telinga dan bahu, untuk merogoh tas tenteng. Mencari airpods. Saat ketemu, Briana langsung menyumpal telinganya dengan airpods tersebut, menyambungkannya ke ponsel.

"Iya, gimana, Mi?" Briana bertanya ulang, saat tadi, kurang menangkap jelas perkataan sang Mami.

Isabella Diamour, menghubungi anak perempuannya, Briana Diamour. Di sore hari ini, bukan malam. Seperti, jam delapan atau sembilan, kala wanita itu sudah menyelesaikan pekerjaan. Sungguh, ini, sesuatu yang langka, sampai bisa dihitung jari seberapa sering frekuensinya.

Terdengar helaan napas halus di seberang. "Mami tanya, kamu baik-baik saja 'kan, di sana?"

"Hm?"

Briana yang telah melanjutkan langkah, menyusul teman-temannya yang berjalan di depan. Sontak saja, mengernyit, heran. Mendengar pertanyaan yang dilontarkan mami disertai getir, khawatir. Briana mengecek bagian tubuhnya yang bisa ditangkap mata; bahu sampai kaki, ke tangan. Menegak kembali usai membenarkan letak tas tenteng di bahu kanan. "Bri baik-baik aja, Mi."

Kalau yang dimaksud Mami dengan baik-baik saja adalah emosi Briana, maka, itu baru tidak baik-baik saja. Hell, Briana mendengus. Ogah rasanya mengingat kejadian di taman lingkar tadi.

"Salah satu anak teman Mami yang kuliah di Canada bunuh diri karena stress. Kamu, stress, tidak?"

Kernyitan di kening Briana kian dalam. "Kayanya... enggak?" Di saat bersamaan, Briana merasa simpati dengan teman maminya yang baru kehilangan anak.

Pasti berat bagi orang tua yang ditinggalkan. Apalagi kalau anak tersebut adalah satu-satunya penerus kerajaan bisnis keluarga.

Briana menyayangkannya.

"Mau Mami buatin janji sama dokter?"

"Mami, Bri bilang, Bri baik-baik aja."

"Who knows?"

Briana menghela napas panjang. Maminya, Isabella Diamour memang sering, bisa kelewat protektif. Mudah khawatir. Kalau bisa, juga ingin tahu segalanya mengenai sang anak. Lebih-lebih, selama kuliah Briana tidak tinggal di rumah, melainkan ngekos di dekat kampus bersama Fiora. Itupun, Briana masih sering pulang karena jarak kampus dan rumahnya memang tidak sejauh yang dikira.

Bertepatan dengan dirinya yang sudah berdiri di samping Nessa. Briana menghunuskan lirikan sengit, saat tidak sengaja bersitatap dengan sosok yang tidak mau dilihatnya. "Bri yang paling tahu, kalau Bri, baik-baik aja, Mii." Briana menekan suaranya pelan.

"Okay..." balasan Mami yang nampaknya sudah menerima jawaban Briana, membuat Briana diam-diam menghembuskan napas, lega. "Janji langsung hubungin Mami kalau ada apa-apa?"

Refleks, Briana mengangguk. Untuk selanjutnya sadar, mami jelas, tidak bisa melihat anggukan kepalanya. "Iya, Mami. Bri janji."

"Hm," Mami berdehem. Tipe-tipe deheman yang mengartikan 'dasar'. Briana mengulum senyum. Bertutur, menenangkan. "Mami tenang aja. Bri, di sini baik-baik aja. Kalau ada apa-apa, pasti Bri langsung hubungin Mami, atau pulang sekalian. Kampus ke rumah 'kan deket."

"Tuh, Mami heran, deh, kenapa kamu segala ngekos sih, Briana? Diantar jemput Pak Kismin 'kan bisa. Pak Kismin sampai sudah join perkumpulan sopir mahasiswa-mahasiswi kampus kamu loh."

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang