Chemtrails over the Country Club -
Lana Del Rey
—
Langkah kaki jenjang, semampai, beralas heels keemasan mengkilat, menyusuri setiap labirin ruang. Ketukan terdengar nyaring, kuat, berirama, tergesa, seiring riak wajah keras ditampakkan. Dari sisi lorong dan ruang temaram yang tak tersentuh glamornya pesta, berpindah pada bagian utama yang menyilaukan. Penampilan yang memukau, membuat beberapa pasang kepala menoleh penasaran. Harum semerbak dihantarkan. Peony menemani setiap ragam bunga di pot tinggi beberapa sisi. Alunan petik senar permainan musik tradisional. Diganti Waltz of the flowers, mengalun, menegangkan.
Menemukan sosok yang dicari, langkah Briana kian dipacu ke sana. Manik karamelnya menajam. Tangannya diayunkan, terhenti, diturunkan kembali, menatap datar Ken Yanai yang sedang bersama Yuki dan Kira, dari tatapannya, Briana menyuruh Ken mengikutinya.
Saat itu, Briana tak mengindahkan panggilan Yuki dan Kira. Menuju ke sisi ruang yang tak ramai, menghiraukan tatapan orang-orang. Jeremi Yanai melihat dari kejauhan. Rautnya datar, berjalan melewati Bian, berdiri di sebelah kanan lelaki itu yang tengah berada di antara pembicaraan kerabat-kerabat Tjokrowinata.
Jeremi membisikkan, "Briana bersama Ken Yanai."
Menoleh tipis, dalam gerak se-samar yang bisa dibuat, Bian menoleh ke arah kepergian kedua pasang sepupu itu. Lagi, dibisikkan. "Sepertinya, Briana sudah tahu. Mungkin dari Sen Yanai."
Bian tidak memberikan balasan, mulutnya terkunci rapat, hanya tatapannya yang masih diarahkan, meski keberadaan Briana sudah menghilang di balik dinding lorong panjang. "Sebentar lagi waktunya. Kamu sudah siap?"
Bian menoleh sekilas pada Jeremi, raut keduanya sama-sama datar. "Saya akan mendatangi Briana, kalau dia sudah siap."
Jeremi Yanai menanggapi. "Bukan bertemu di ruang penjamuan makan malam? Bersama-sama sedari awal, akan menimbulkan lebih banyak gosip."
"..."
Papa Bian, William Tjokrowinata sempat memberi lirikan. Di tangannya tergenggam gelas tinggi champagne. "Bagaimana menurut kamu, Bian?"
Mengalihkan fokus, tatapan pihak-pihak yang ada di sana sontak mengarah padanya. Presiden Singapura baru memberitahu, dua hari yang lalu dirinya duduk bersama Pangeran Charles di Buckingham. Sempat memiliki beberapa topik pembicaraan; salah satunya mengenai sustainable energy. Pembicaraan terkait pembangunan gedung dan ruang ramah lingkungan dengan teknologi dan energi terbarukan. Ada selipan pembicaraan mengenai persenjataan buatan Rusia-China. Juga perpolitikan Inggris dan Singapura.
"Isu pemanasan global, adalah salah satu isu yang menjadi perhatian khalayak publik. Menurut saya dengan pembangunan gedung dan ruang ramah lingkungan, terkhusus dengan teknologi dan energi terbarukan yang juga memperhatikan kesehatan lingkungan bisa menjadi salah satu cara untuk menghasilkan oksigen yang berkualitas di bumi."
William menyesap sampanye. "Mengenai persenjataan bagaimana menurut kamu?"
Mengambil waktu sesaat, Bian yang juga menenteng gelas sampanye, menyesapnya halus terlebih dahulu. Untuk kali ini menatap Papanya. "Saya rasa, Papa yang lebih ahli mengenai persenjataan. Tapi, kalau boleh bicara, persenjataan perang dibuat untuk berjaga-jaga, bukan untuk diperdagangkan dengan bebas." katanya tenang. "Saya percaya buatan Rusia-China tidak bisa diragukan lagi kualitasnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
