32.1 Wildflower Wildfire

18.9K 1.2K 247
                                        

Fantasy - Mariah Carey

Japan, 14 years ago - 2005

Awan putih bearak ramai di langit biru muda pekat yang terang. Menghasilkan fatamorgana bentuk menyerupai apa yang dipikirkan; gajah, beruang. Menyamarkan sengat hangat matahari yang tak nampak; tidak terik, sejuk. Angin berhembus, sedang, desaunya bagai bisikan di antara celah rumput, pohon kelapa tinggi, dan tumbuhan; kebun bunga matahari yang subur, membentuk labirin besar di antara keindahan rumah musim panas sebuah keluarga, di Kyoto.

Di bagian yang lebih rendah, di bawah terpal bukit, di balik semak, gelombang pasang mendayu di lautan biru, menyentuh bibir pantai dan karang. Pasir putih terhampar. Linang berkilau air laut menerawang. Suara gagak, cicit burung jauh dihantarkan, mengiringi ramai kereta lewat, masinis membunyikan penanda; seumpama pluit ditiup kuat-kuat, menghasilkan suara panjang. Seperti riuh suka cita segelintir orang yang meneriaki gundah ke alam di pinggir pantai. Tak mengganggu pihak lain yang hanya duduk santai, menghayati damai.

Dua sisi kehidupan bersatu padu; tenang, ramai.

Seorang anak perempuan bagai tak kenal lelah; terus berlarian. Terpekik girang. Gaun sederhana musim panas kuning bunga matahari menemani sandal anyaman warna senada. Kalung manik-manik, kalung lainnya berbandul batu Amethyst, melingkar di leher. Sling bag putih kecil tersemat di tubuh. Mata karamelnya berbinar, menyipit membentuk bulan sabit. Garis bibirnya melengkung menyentuh pipi yang memerah oleh hangat. Di saat rambut hitam panjang ikat kudanya yang tersemat jepit bunga perak tergerak seiring langkah kaki berjalan, tirai poninya lepek oleh peluh di dahi dan pelipis. Sesekali diseka oleh tangan kecilnya yang penuh oleh gelang mainan anak-anak.

Namun, anak perpempuan itu tetap semangat berlarian, bermain kejar-kejaran dengan anak anjingnya di hamparan luas rumput hijau yang sesekali menampakkan bunga liar. Debur ombak jauh terdengar, dikalahi suara gelak tawa renyah polos yang keluar bagai teramat kegelian.

"Briana..."

Langkah kaki kecilnya otomatis dihentikkan—bagai rem yang diinjak kuat-kuat atas suara panggilan orang dewasa yang teramat dirinya kenal. Limbung seperti mobil tidak seimbang, anak perempuan yang dipanggil Briana itu terjatuh di atas hamparan rumput hijau, tepat di samping bunga liar berwarna ungu, berkat serbuan anjing kecilnya yang meloncat ke pelukan, menjilati wajahnya tak ada ampun.

"Stop it." lerai Briana terkikik, geli. Berusaha menutupi wajah dari jangkauan anjing kecilnya dengan tangan. Meminta bantuan dari sosok yang tadi memanggil namanya. "Papi, help me!" serunya. Mendorong halus anjing kecilnya untuk turun dari atasnya. "Stop it, Bruno!"

"I'll triple up your food if you be a good boy!"

Seperti mantra, anjing kecilnya berhenti menyerbu wajahnya. Berganti terduduk di sisi tubuhnya secara manis—bagai makhluk polos tidak berdosa. Tapi dia memang imut dan lucu, pikir Briana yang kelelahan diserang, menarik napas panjang, "Bruno, lebih sayang aku atau makanan?" tanyanya pada anjing kecilnya yang mengeluarkan gonggongan, Briana artikan; makanan. Membuatnya mendengus sebal. Menyipit galak pada Bruno yang memasang wajah memelas berlinang dengan kepala sedikit ditelengkan. Suara Bruno samar dikeluarkan; hngg.

"Briana," panggilan sekali lagi dari Papi, diiringi alunan renyah tawa atas apa yang dilihat. Langkah kakinya mendekat. "Come here, Bruno."

Sahutan Bruno yang berupa gonggongan lemah, berlari ke sisi Papi bagai sedang mengadu habis dijahati dirinya, Briana bangkit seketika. Tergelak girang, berbalapan dengan anak anjingnya, Briana memeluk erat kaki Papinya, meleletkan lidah pada Bruno yang memprotes. "Ini Papi aku!"

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang