All I Really Want Is You - The Marías
—
Canvas kelabu terhampar. Memburamkan pandangan. Mengaburkan praduga antara embun dan segerumul polutan. Tidak ada kata kepagian ketika jalanan telah ramai. Berbondong-bondong kendaraan turun ke jalan. Dipecut oleh waktu, untuk berburu, melawan ganasnya kemacetan.
Seperti halnya Ren Takahara yang sudah ikut berjuang untuk mencapai tujuan. Waktu baru akan menyentuh pukul tujuh, ketika ia berhasil keluar dari sekelumut barisan panjang yang mulai tak beratur.
Ada penyempitan jalan karena proyek pembangunan jalan tol, sehingga laju mobil harus melambat. Beruntung, pengaturan waktu yang cukup baik, membuat Ren tidak terjebak.
Masih di lurusan jalan besar perkantoran dengan laju yang telah lancar. Paginya masih cukup damai. Ren hanya tinggal membelokkan mobil, masuk ke area gedung tinggi menjulang yang teramat familiar.
Tetapi memang kejutan suka tiba-tiba datang. Termasuk ketika Ren harus menginjak rem mobil dalam-dalam secara mendadak, oleh apa yang menghadang.
Bagusnya, Ren tidak suka mengumpat.
Menghela napas untuk mengais kesabaran sebelum menukikkan alis. Mata Ren memicing oleh sepasang kaki jenjang ber-louboutin runcing yang terulur keluar dari Maybach yang berhenti di depan mobilnya—di pinggir jalan.
Tanda heran semakin tertanam mendapati seorang wanita muda semampai, berpakaian cukup rapi; blouse biru langit, rok slit hitam, tersampir tas jinjing hitam di bahu kanan yang sudah pasti tak pernah membungkuk sembarang.
Rambut cokelat sepunggungnya yang digerai, nampak terlalu halus saat disapu angin.
Memilih turun di pinggir jalan, alih-alih lobi kantor, terlalu mencolok untuk seseorang yang berjalan angkuh, tanpa gurat salah karena membuat mobil orang lain berhenti mendadak.
Menggunakan waktu menunggu mobil di depannya berlalu. Mata Ren yang tak sadar mematut seksama, menghadirkan sebuah ingatan di benaknya. Ren tahu, bukan kenal, siapa wanita muda itu. Hanya saja, Ren bertanya-tanya, untuk apa sosok wanita itu ke kantornya?
Di hari yang terlalu pagi, untuk karyawan lain. Sekali lagi, wanita itu turun di pinggir jalan, bukan di lobi. Apa hari ini ada agenda pembahasan terkait kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan keluarga wanita itu?
Menampik segerombol pertanyaan yang terlalu tiba-tiba. Ren akan mengecek ulang jadwalnya hari ini yang telah dikirimkan oleh sekretarisnya. Sebab, seingat Ren, tidak ada. Tidak ada satu pun nama perusahaan menyangkut wanita itu di daftarnya.
Lalu, dihadapkan langsung dengan sosok wanita itu berdua, di satu lift yang sama. Terkhusus untuk direksi yang tak membuat Ren merasa heran. Ren tahu keluarga wanita itu, mengenal orang tuanya.
Natadisastra.
Ren memilih mengatupkan bibir, tak menyematkan sapaan. Hanya mencoba sopan dengan memberi anggukan dan senyum segaris tipis, yang sungguh tak berguna kalau yang dihadapannya berdiri bagaikan patung persembahan. Terus meluruskan punggung, beraut datar angkuh.
Luar biasa.
Melirik dari ekor mata kepergian wanita itu di lantai departemen keuangan, Ren melanjutkan perjalanan. Sampai hari menjelang siang, mereka tak lagi bersinggungan. Ren tidak memusingkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
