Young and Beautiful - Lana Del Rey
—
Ketika gosip panas calon tunangannya sampai pada Ren Takahara, lelaki itu baru menyelesaikan conference call untuk yang ke sekian kalinya dalam beberapa pekan ini, dan sekarang, seharusnya ia sudah berada dalam Airbus A380 untuk perjalanan ke Tokyo. Jena, sekretarisnya, masuk, membawakan yang ia minta; portofolio perusahaan yang hendak ia akuisisi untuk mendorong TetraCont—techcomp baru yang sedang ia rintis.
Saat ini, pasar saham sedang ramai dengan spekulasi dan penghitungan, diliputi grafik kasar atas seberapa menguntungkan jika menyuntikkan dana di techcomp rintisannya yang selalu dibawa-bawa dalam pembicaraan bisnis di penjamuan gala, insider para pemerhati pasar, juga social media.
Para awak media tak berhenti memburunya untuk mendapatkan wawancara ekslusif. Majalah, koran, situs bisnis, memuat tajuk dengan judul besar yang patut dipertanyakan. Tunggu sampai Forbes ingin memasukkannya kembali ke dalam list emas.
Tidak. Tidak pernah keseluruhan aset bersihnya diperlihatkan. Ren cukup membatasi privasinya.
"ThinkPay memiliki alur pendanaan yang cukup mudah, Pak. Fitur yang mereka muat juga lengkap. Menurut saya memang akan sangat berguna bagi sistem pendanaan TertaCont nanti,"
"Right? Saya juga berpikir demikian,"
"Selain untuk TetraCont, mungkin nanti juga bisa dikembangkan di sektor perbankan keluarga Bapak,"
"Bank kita," Ren meralat diiringi senyum. "Kurang tepat rasanya; perbankan keluarga Bapak. Seolah, bank itu khusus keluarga saya."
Jena mengangguk sopan saat Ren balik membaca informasi yang tertuang dalam tablet. "Jen,"
"Iya, Pak?"
"Ada berita apa hari ini?"
"Oh..." Jena merespon tanggap. "Ibu, Bapak telah menghubungi beberapa kali dari Kyoto sebelum penerbangannya ke Indonesia, beliau menitipkan pesan agar Bapak menghubungi beliau balik," Beritahunya. "Lalu, Fortune ingin mengundang Bapak makan malam. Di waktu yang sama, perwakilan J.P Morgan ingin bertemu Bapak di Istana."
Ren mengangkat kepala. Menyatukan kedua tangan, siku menempel di atas meja pahatan kayu baroque milik King Charles II yang dihadiahkan kepada leluhurnya. "Itu saja?"
"Ada berita beredar mengenai calon tunangan Bapak," Jena menyatakan runtut. Membuka tablet lain yang dibawa. Menunjukkan pada Ren. "Sore tadi di GBK."
"Lelaki ini lagi," Ren menggumam, tersenyum impulsif. "Sudah cari tahu tentang dia?"
Jena mengangguk, meminta izin untuk menggeser layar tablet ketika Ren berdiri, mengancingi suit Rubinacci-nya yang licin. Ia menarik gelas berkaki tinggi berisi Romanee. Sonata No. 14 diputar, seiring kaki membawanya berdiri di depan dinding kaca ruang kantornya yang bernuansa semi art deco.
Netra coklat Ren mematri keramaian yang jauh di bawahnya; kendaraan, orang-orang, gedung-gedung pencakar langit. Biru putih diganti kuning oranye, terpapar kuas lilac keunguan pucat, langit berubah gelap, perlahan. Halus, Ren menghidu red wine-nya, menyesapnya. Dasi coklat susu bercorak, sehelai sapu tangan silk di dada kiri. Pria bertubuh tegap dalam kemeja linen putih dipadu blazer dan celana putih gading kasmir licin itu memasukkan sebelah tangan dalam saku celana. Bak siap berkelana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Ficção AdolescenteBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
