There Is a Light That Never Goes Out -
The Smiths
—
Layaknya kereta yang melaju cepat pada sebidak lurus jalur terkhusus. Terus mengikut garis yang ditentukan, tak keluar. Terantai dalam penjara untuk tetap di tempat semestinya. Menghindari kekacauan, sehingga semua tetap aman. Hubungan dua anak manusia yang memutuskan berteman, usai mengenyam kasmaran, kabut kekecewaan, juga berjalan demikian. Menampik keinginan, sadar untuk tetap di jalur yang benar, sebagai teman.
Kalender di ponsel Briana melingkar pada tanggal 4 Oktober 2019. Menandakan waktu berselang, terus berjalan, namun dirinya masih saja di pijakan awal. Memperhatikan dosen yang berteori di depan. Tugas mahasiswa untuk menganalisis, memberikan opini. Bertanya-tanya dengan menarik seluruh pengetahuan di kepala, hingga jawaban yang diharapkan sejalan dengan nalar dikeluarkan.
Tapi, Briana malah memikirkan: sudah sedekat apa Bian dan Erica? Apa yang mereka bicarakan, sampai menjadi rahasia? Apa yang Bian tunggu dan kejar sesuai dugaannya? Kenapa, Bian masih berani-beraninya untuk meminta izin menciumnya?!
Singgah pada hal yang membuat Briana pusing juga: Mami terus mendesak Briana untuk benar-benar menikmati libur musim dingin dengan Ren Takahara. Menakut-nakutinya dengan pertemuan kedua belah keluarga. Mengomeli Briana saat menemukan dirinya kabur bersama Sen dari makan malam mereka. Sungguh, pusing. Kalau terjun bebas bisa menghilangkan sakit kepala, bukan nyawa. Briana pasti akan melakukannya. Geez.
Lantas, bisa-bisanya, malam itu Bian benar-benar berterima kasih kepada Sen yang bertutur bak memberi petuah—sesat. "Tetap perjuangin apa yang lo inginkan. Waktu terus berjalan, begitu juga kaki yang diayunkan." Bak don juan, di kelilingi dua wanita yang masih di sisinya. Sudah tidak lagi melihat Bian secara takut-takut, berganti minat.
Halah.
Bian berakhir pulang bersama Erica yang bisa-bisanya selamat, selama satu jam lebih bersama Sen Yanai. Masih menyisakan tanda tanya. Briana? Sudah pasti secara tak sadar memasang wajah bagai pacar yang tengah merajuk karena pacarnya, memilih mengantar pulang perempuan lain.
Tak mengindahkan raut menjengkelkan Sen. Briana mencuri paksa kunci mobilnya. Menulikan telinga dari teriakannya. "Aiyoh, Bri! Wait for me, lah! Nanti gue bantu cari tahu ada hubungan apa di antara mereka berdua—" Secara cepat, Briana menghentikkan langkah, menoleh pada Sen yang menyusulnya. Briana menaikkan sebelah alis, menuntut, Sen tersenyum penuh maksud. "Itu 'kan, yang lo mau?" Briana tak memberi jawaban.
Terbuyar, lamunannya, oleh pertanyaan lain yang masuk. Membawa dimensi yang sebenarnya ia berada, di ruang kelas, bukan arcade center dipenuhi kerlap-kerlip menyilaukan."Menurut Bri, kenapa Ilmu Ekonomi, Manajemen, Akuntansi, perlu ada?" bisik Fiora bertanya pada Briana. Suaranya teredam mahasiswa yang memaparkan tanggapan atas pertanyaan dosen mengenai penerapan pendekatan ilmiah pada Akuntansi. Briana memperhatikan mahasiswa itu, menoleh sekilas pada Fiora. "Biar ilmu pengetahuan lengkap?" jawab Briana asal. "I mean, untuk mengatur keuangan, pendapatan, perlu ilmu yang bisa digunain sebagai acuan atau pedoman 'kan, biar nggak salah jalan."
"Bisa diterima," Fiora mengangguk samar. Memberitahukan. "Papa Fiora bilang, rumpun ekonomi itu penting, karena uang adalah salah satu elemen untuk bertahan hidup. Jadi, tanpa ilmu pengetahuan yang terstruktur terkait pengelolaan uang, hidup akan kacau, karena pergerakan uang nggak teratur. Let's say, negara-negara yang bangkrut. That's way, perlu Ilmu Ekonomi untuk melawan inflasi. Manajemen untuk merencanakan perputaran uang. Akuntansi untuk, mencatat, mempertanggungjawabkannya secara akurat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Novela JuvenilBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
