The Rain From Light and Shadow -
Ichiko Aoba
—
"You good, Man?"
Pertanyaan pertama Axel ketika panggilan dari lelaki itu akhirnya diangkat Bian setelah berulang kali dihiraukan. Sama seperti pesannya yang tak dibalas. Sebenar-benarnya, bukan hanya pesan dari Axel, tetapi kegamangan membuat Bian tak membalas satu pun pesan yang masuk di ponselnya.
Ah Gong yang mengetahui tindakan Bian telah mengirim pesan ultimatum sebab panggilannya tak kunjung diangkat. Melalui asisten pribadi-nya, Ah Gong meminta Bian segera ke Singapura. Bian seolah bisa menduga, ia akan langsung disidang sesampainya di sana. Sedang Opa dari Mama yang mungkin mendengar seluruh kekacauan yang terjadi, menanyai kabarnya, tapi bingung membuat Bian tak bisa menjawab. Bagaimana kabar dirinya?
Apakah baik-baik saja?
Bian bahkan tak bisa menerkanya.
Netranya hanya terpaku, memperhatikan nanar pesan-pesan dari Briana yang terkirim untuknya.
Pesan yang diakhiri sarat keputusasaan.
This isn't love, Bi...
I'm sorry...
Meski terlihat tenang, gelitik resah merayap di hati diam-diam. Menyadari pesan-pesan dari Briana yang berjeda tak begitu lama. Menunjukkan bahwa gadis itu sama seperti dirinya, tidak memejamkan mata semalaman. Briana pasti sedang tidak baik-baik saja. Gadis itu menangis... tanpa suara... Briana nampaknya, telah mengetahui semuanya.
Kekhawatiran akan keadaan gadis itu saat ini, membuat Bian semakin tak tenang. Sekali lagi, bagaimana dengan kondisi dirinya sendiri? Bian tidak tahu. Mungkin seperti perkataan Papa yang tidak memperbolehkan Bian pergi sendiri menemui Briana, kacau. Hal yang hanya Bian tahu saat ini, Bian harus memastikan Briana baik-baik saja.
Ada helaan tipis di seberang. Mungkin paham akan hening yang diberikan, Axel melanjutkan perkataan.
"Lo ingat pertemuan pertama gue sama lo di pinggir danau kampus, saat seharusnya kita ikut ospek, tapi malah nyebat bareng? Gue bilang lo, gue punya tunangan. Cantik banget, anak FH. Sosok yang gue idam-idamkan dari lama." Axel tertawa, bisa ditebak sedang tersenyum menerawang."Saat itu, lo cuma mendengarkan, nggak bicara sepatah kata pun. Sampai gue mengira, sorry, lo nggak bisa bicara." Axel menjeda, suaranya cukup tenang. "Itu dulu, karena sekarang gue tahu, lo bukan nggak bisa bicara, lo hanya terlalu sering menjadi pendengar."
"..."
"Lo lebih banyak diam... atau, milih memendam?"
"..."
"Gue belajar banyak dari Hera..."
"..."
"Briana, nggak bisa selamanya nggak tahu apa-apa. Dia butuh tahu. Sekecil, sebesar apapun masalah di antara kalian. Dia butuh tahu keadaan lo. Dia butuh tahu semua ketakutan, keresahan yang lo hadapin. Lo nggak bisa selamanya menutupi itu dari Briana dengan dalih agar dia tetap baik-baik aja dan lo yang menanggung semua masalah. Gue tahu lo Bian, dan gue juga tahu, seberapa sakitnya menjadi pihak yang tahu semuanya di akhir. Briana akan menyalahkan dirinya sendiri karena ketidaktahuannya, karena nggak bisa menolong lo yang nggak baik-baik aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Fiksi RemajaBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
