Anything You Want - Reality Club
—
Melalui idenya, Briana pernah membuat rambut Natasha menjadi hijau terang dengan mencampurkan pewarna rambut ke dalam shampoo gadis itu yang digunakan saat mandi usai cheers. Briana juga pernah membuat sepatu putih Natasha, menjadi hitam mengkilap. Membuatnya menjadi terlihat mencolok di lapangan. Briana berakhir dipanggil pelatih cheers, dirinya diberi peringatan.
Ketika dirinya dan Bian pacaran, Briana berhasil membuat Bian meminjam textbook mata pelajaran ekonomi mikro-nya karena setiap siswa diharuskan memiliki buku masing-masing, sedangkan buku Bian tiba-tiba menghilang dan Briana yang berada di kelas lain adalah pilihan. Pilihan. Tidak terdengar mengenakkan, tetapi raut datar Bian memberitahu bahwa lelaki itu sadar, Briana yang menghilangkan.
Menahan senyum sekuat tenaga, Briana pernah membuat Bian terpaksa pulang bersamanya karena kendaraan lelaki itu berakhir di bengkel, sedangkan Bian hanya bisa menghubungi orang lain melaluinya. Ponsel lelaki itu ada padanya.
Bian mengetahui Briana berpesta di kelab malam dengan Tamara dan Ferel di saat seharusnya umur mereka belum cukup untuk masuk ke sana. Memposting video seolah-olah masuk terlalu dalam ke pesta di instagram story yang dibuat hanya untuk Bian yang melihat. Lima belas menit kemudian, Briana menemukan Bian berdiri bagai pencabut nyawa di hadapannya.
Saat itu, Briana menahan untuk tidak langsung menerjang Bian dengan pelukan—oh, ciuman.
Wajah datar Bian. Ditambah kaos dan celana pendek hitam rumahan—kacamata dan sendal, menandakan Bian yang pasti sedang belajar, terburu-buru untuk menggeretnya pulang.
Untungnya, Bian masih ingat untuk membawa mobil alih-alih motor karena baju Briana sudah pasti akan membuatnya masuk angin karena terkena angin malam.
Berjalan bersisian dengan Bian menuju parkiran, Briana sebenarnya gregetan ingin bergandengan. Namun ia tampik, oleh pertanyaan. "Kamu kenapa jemput aku? Bukannya kamu lagi belajar kimia? Di telepon 'kan, aku nggak minta jemput kamu. Terus aku kira kamu nanya aku di mana, mau ikut party sama aku—"
"..."
Sadar Bian yang wajahnya mengeras saat ini tak akan menanggapinya, bibir Briana dicebikkan.
"Berhenti di sini aja. Jangan masuk," tahan Briana kala mobil Bian sudah hampir dekat rumahnya. Bian menoleh. "Kenapa?"
"Nanti Mami marah sama kamu. Ngiranya aku pergi gara-gara kamu," akunya, jujur. Wajah Briana sendu. Memilin ujung lengan jaket Bian yang disimpan di mobil, Briana mengenakkan secara kebesaran. Perlahan, Bian melakukan apa yang Briana inginkan, berhenti di bahu jalan, tak jauh dari rumah Briana. "Memang gara-gara aku 'kan?"
Briana mengangkat kepala. Bingung bersemayam. Diganti decakkan tipis saat sadar, Bian kepedean, tapi lelaki itu benar. Briana membuang muka.
"Aku antar sampai depan pintu."
"Biii," Briana menatap Bian. Memelas. "Papi lagi nggak di rumah. Cuma Mami..."
Briana meneliti penampilan Bian saat ini. Rambut lelaki itu yang acak-acakan. Jangan salah paham, Briana suka. Sangat suka dengan rambut Bian yang membuat jemarinya gatal. Tetapi akan berbeda dengan respon Mami kalau melihat penampilan Bian saat ini. Entah, Mami-nya nampak tidak begitu menyukai Bian. Tidak seperti Papi-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Fiksi RemajaBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
