28. Young-Careless

18.6K 1.4K 248
                                        

Wildest Dreams - Taylor Swift

She is harmless. Only sometimes, she is careless.

Menyaksikan Royal—sebutan untuk pemandu sorak sekolah mereka—melakukan latihan di gymnasium sekolah, adalah hal yang langka. Biasanya, mereka melangsungkan di tempat khusus, terkhusus, eksklusif. Digadang-gadang hanya untuk tim cheerleader yang telah menerima gelar A Team dan sudah dikenal oleh banyak tim lain.

Ketika itu, di salah satu hari Selasa tahun 2015. Bertepatan dengan jadwal tim basket, Spartans latihan. Lapangan gymnas dibagi dua. Para anggota tim basket tidak akan bersusah-susah mengalah untuk menggunakan lapangan outdoor saja, juga sebaliknya. Sebab, kesempatan langka harus digunakan; saling menyemangati antar kedua tim yang selalu bekerja sama di lapangan. Lebih seperti, kesempatan untuk menyaksikan satu sama lain.

"Cewek lo mantep ya, An."

Kaki tidak lagi berlari. Beberapa anggota tim basket memilih melangkah hati-hati setiap kali pelatih lengah. Di bagian lapangan untuk tim basket, mereka menghentikkan gerakan tangan yang seharusnya mendribble bola, berganti memeluknya, sedang sebagian membiarkannya di lantai, mata menyaksikan gerak pasti, lentur dari para pemandu sorak saat remix dari DJ Turn It Up, Hot in Herre, BO$$, Bang Bang, dan entah lagu apalagi memutar.

Mungkin tidak ada yang melihat, tapi, samar, senyum Bian disematkan. Obsidiannya diarahkan lurus pada salah satu flyer yang berdiri di atas tangan-tangan para base. Dalam balutan white crop top dan black short dilapis rok cheers bercorak biru putih, Briana, sedang melakukan gerak scorpion.

Ya...

The funny thing about her when doing cheerleading is... she smiles so wide, sparkling like a star that is so tempting and fascinating which makes the people see her wonder; why does she look delightfully bright? Her structured smile, her petite appearance, her soft movement. She's all cute and sweet, until, her feet stand the outside of the field—the fierce face comes back real quick. Noted, still mesmerizing.

"Mantan lo juga mantep, lah. Hoki lo."

Celetukan rekan tim basket Bian tak ia indahkan. Cukup kepada Briana magnet matanya dilabuhkan. Lekat, telinganya ditulikan dari kerubung komentar. Memilih menyaksikan bagaimana Briana yang diturunkan dengan pinggang kecilnya dipegang, untuk dinaikkan kembali. Kaki di dorong ke atas. Tinggi-tinggi. Secara begitu saja, kaki panjang Bian berjalan cepat ke sana, saat sadar, Briana yang hendak melakukan ball up hampir terjerembab, sebab para base yang tak siap menangkap.

Pekikan ngeri teredam. Mata Briana terpejam.

"Are you okay?" Bian memastikan. Debar jantungnya mengencang kala berhasil menangkap Briana di pelukan. Tak mengindahkan pandangan aneh orang-orang atas kehadirannya yang tiba-tiba menerjang, tak diundang. "Briana?"

Membaui harum tubuh yang familiar, rasa nyaman yang menjalar. Kelopak mata Briana dibuka perlahan. Karamelnya melebar, mungkin keheranan, mengapa ia berakhir di pelukan Bian? Saat seharusnya ditangkap base, atau jatuh ke lantai?

Lalu, seperti film india, mereka bepandangan, bukannya buru-buru mengurai dekapan. Baru mengerjap sadar, saat deheman dan sorakan dilemparkan. "Lepasin—lepas, Bi."

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang