37. Postmodern Way

18.4K 1.3K 616
                                        

Everything - The Black Skirts

"You must be having an excessive daydream."

Mengeratkan selimut putih tipis yang melingkupi tubuh, Briana memeluk dari belakang tubuh liat Bian yang shirtless. Sedang berdiri di ujung tembok pembatas gedung. Menatap jauh ke pemandangan matahari terbit. Kuas melukis oranye kemerahan di langit lapang. Kuning telur tergores halus di antara biru gelap, awan putih belum terbentuk beramai-ramai menggantung sebagai bayangan. Briana menyelinap ke depan tubuh Bian, yang langsung menaikkan tangan kanan, sebab di antara jemari panjang lelaki itu tersemat rokok yang terbakar.

Mendongak, mata Briana menyipit, menemukan Bian secara santai merokok sambil melamun. Entah melamunkan apa; Briana harap bukan kesedihan.

"Mau join kamu,"

"Join apa?"

Bukan perkataan lisan. Briana memajukan tubuh bagai ingin meraih rokok Bian, yang lantas langsung memberi Briana tatapan peringatan. Rokok Bian matikan. Menyisakan pekat asap kelabu terbang, mengikuti langit yang perlahan-lahan terang.

Briana mencibir kesal. "Udah selesai mengkhayal joroknya?" sindirnya dengan nada manis, tetapi matanya masih menyipit sengit.

Mereka berhadapan, Briana di dalam lingkup tubuh Bian, bersandar di tembok. Disuguhkan tubuh bagian depan Bian yang dipenuhi tato, perut kotak-kotaknya. Apa yang kurang darinya? Bersama harumnya. Bahkan dengan rambut lelaki itu yang terlihat acak-acakan.... He's definitely the sex god.

Bian mengecup dahi Briana lembut.

Mata Briana terpejam sesaat, meresapi kecupan Bian. Tangan lelaki itu yang mengusap halus sisi kepalanya, merapikan tatanan rambutnya. Bian menyapukan bibir di pipinya lama. Membisikkan; selamat pagi, sayang. Di samping telinganya, helai-helai tipis rambutnya disematkan di baliknya, ya, Bian benar-benar sangat menggoda.

Bagaimana Briana tidak terlena olehnya?

Bagaimana Briana tidak merindukan ini?

"Aku lagi ngapain di kepala kamu, Bi?"

"Do striptease."

"Okay..." Briana mengangguk tipis, seolah berpikir. Setelahnya melebarkan selimut, untuk membawa Bian yang menaikkan sebelas alis karena melihat penampakan tubuh gadis itu, ikut masuk. "At least you need to wear your thong, Baby."

"How does it feel?" tanya Briana tak mengindahkan sindiran halus Bian. Dirinya menatap intens lelaki itu dari balik kelopak mata. Kaki mereka saling menyentuh di baliknya. Briana memeluk pinggang Bian untuk mereka merapat.

"Apa?" Bukan jawaban, Bian bertanya balik. Lengannya merengkuh Briana. "Your striptease move or your naked body... right now?"

"Why are you being so nasty?" ejek Briana, geli. Meski sedari tadi perkataan Bian seolah menggoda, lelaki itu menatap Briana tanpa ekspresi belaka, tetapi lekat. Kedua tangan Bian yang memegang pinggang kecilnya, perlahan diturunkan.

Melunturkan celaan Briana, diganti lenguhan. "Bi... padahal aku mau tanya gimana perasaan kamu sekarang. Geezyou just made a heaven move—"

"What is heaven move?" imbuh Bian. Bibirnya tertarik, membentuk seringai. Menelusuri kulit halus Briana. "What is heaven move, Baby? Enlighten me."

"Kamu—jangan pura-pura polos..." hardik Briana galak. Tidak lama, Briana memejamkan mata. Menampik ramai suara kendaraan yang mulai terdengar. Angin yang mengintip saat selimutnya mulai longgar. Briana menggigit bibir, kepalanya menghadirkan euforia melayang, mendongak, tubuhnya bergerak gelisah. Tangannya mengerat di lingkar tubuh Bian. Merasakan milik Bian menyentuh miliknya di balik selimut penutup usai lelaki itu membuka kancing menurunkan resleting.

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang