Alice in Wonderland - Joanna Wang
—
Shanghai, 15 years ago - 2004
New York at the east, Paris at the west.
Bian Tjokrowinata menyentuh ringan pagar pembatas yang terletak di The Bund. Mengalir sungai Huangpu yang memisahkan Puxi dan Pudong. Bagian barat yang kental oleh sejarah dengan gedung tinggi bergaya eropa; romawi, baroque, art deco. Bukti bekas pendudukan bangsa Jerman, Inggris, dan Prancis di Tiongkok. Suasana klasik dari sana sangat berbanding dengan rencana pembangunan central business district di bagian timur, yang akan dihiasi gedung pencakar langit.
Baru beberapa jam yang lalu mendarat dari Mayfair, Bian menepis lelah dan kantuk. Ia mengerjapkan mata secara berulang, memandang bangunan di seberang sungai. Bagian lain kota Shangai. Bian berdiri berdamping-dampingan dengan sang Papa. Langit kelabu diiringi kabut putih atas suasana lembab usai hujan rintik berjatuhan sering kali terjadi di sana. Mendayu aroma payau air sungai, suasana magis menenangkan. Mengeratkan mantel berpadding tebal, sebab musim gugur telah datang. Bian mengajak Papa berkeliling sebentar sebelum malam nanti ia ikut bersama Papa dalam acara yang Bian sebut; acara glamour orang dewasa.
Kepala Bian melongok, mematri kedalaman sungai.
"Is there any big fish in the river, Pa?"
Pertanyaan Bian kepada Papanya yang berdiri di sebelah kanannya. Mama tetap di hotel yang Papa bilang adalah hotel keluarga mereka. Bersiap-siap untuk acara nanti malam yang dihelat di atas kapal pesiar yang berlayar di sepanjang sungai. Papa bilang, Mama tidak boleh kelelahan. Ada adik bayi yang Mama bawa kemana-mana di perutnya. Calon adik Bian, yang sangat ditunggu kehadirannya.
"There is a lot of big fish in the river."
"Would they take your gold wedding ring?"
Bian menoleh, melirik cincin yang melingkar di jari manis Papanya, beralih mendongakkan kepala. Pertanyaan mengenai ikan besar sering hadir usai Bian dibacakan buku dan menonton film dengan judul yang sama bersama kedua orang tuanya, pada premier di Hammerstein Ballroom, Manhattan, Desember 2003 lalu. Mereka memang tidak jarang datang menyaksikan premier sebuah film, terutama cinema and theatre Hong Kong dan daratan Cina.
"No," William merunduk, membalas tatapan Bian. Menyematkan pandangan bermakna. "They would give you a gold instead, if you be successful."
Alis Bian bertaut. Pipi seputih kapasnya memerah atas cuaca. "What is success?" tanya Bian, sambil menerka-nerka. "Apakah seperti Edward Bloom yang bisa membangun kota? Atau dirinya yang terbebas dari perang Korea?" Mata Bian mengerjap. Untuk seumur anak tiga beranjak empat tahun, pelafalan dan pemahamannya terlalu di depan. "Papa memiliki Mama seperti Edward Bloom memiliki Sandra, apa itu juga kesuksesan?"
William menoleh ke depan, menatap jauh pemandangan, kembali pada Bian. Angin berhembus kian kencang. "Wealth, health, love could be a measure of being success," tutur William tenang. "Happiness too. But, it takes a lot of thing for being happy. It's an expensive thing to get."
"I could give you money, Pa..."
"How so?"
"Ada tabungan aku dari angpao-angpao yang aku terima. Ah Ma dan Ah Gong memberi aku banyak saat tahun baru kemarin. Papa dan Mama bilang untuk menabung, aku punya uang. Papa mau?" ujar Bian serius. "Atau, kita bisa mencari uang seperti yang dilakukan Edward Bloom. Bekerja di sirkus, lalu melakukan investasi-investasi. Apakah mudah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
