The Night We Met - Lord Huron
—
Bian turun dari mobil lebih dahulu. Meminta Briana menunggu sesaat lelaki itu berbicara dengan Ren Takahara. Manik Briana mengikuti pergerakan Bian dalam pembawaannya yang serius, memutari bagian mobil sampai kemudian berhadap-hadapan dengan calon tunangannya. Semakin menunjukkan, bagaimana perbedaan nampak di antara mereka.
Ren dalam setelan licin formal. Bian, se-kasual anak muda saat keluar. Namun, jika ditilik lebih dalam, bukan hanya dari bagian luar, ada hal yang sama; sama-sama tidak gentar.
Mengetahui sejarah keluarga Takahara dari mulut ke mulut, dari para sepupunya, membuat Briana paham, bahwa lelaki itu, bukan seperti orang biasa pada umumnya. Beranjak dewasa, Briana melihat bagaimana Bian tumbuh, dari mereka sering bertemu, di sekolah, di kampus, di sekitarnya.
Di awal, Bian menutup diri, seolah dunia tidak akan memberikan apapun. Bian bersembunyi, seperti persembunyian di bawah papan seluncuran sekolah mereka. Lalu ketika lelaki itu keluar, bagai palu godam yang tak akan pecah oleh hantaman. Hentak jalannya lebih kuat. Lebih pasti. Masih. Masih menutup diri. Kemudian Briana masuk di dalamnya. Menjadi saksi saat ini, Bian, tidak sama lagi.
Bian sama tak gentarnya, lebih percaya diri dari sebelumnya. Jika memang pengamatan Briana benar adanya; menyaksikan bagaimana Bian tumbuh begitu baik. Semoga. Ada hangat, ada rasa bangga. Dan, Briana tidak akan membiarkan siapapun membuat kepercayaan diri Bian pudar; mengatakan bahwa Bian hanya orang biasa, tidak sebanding jika disanding dengan Ren Takahara.
Menggetirkan. Briana melupakan dirinya. Bukan 'kah, akhir-akhir ini dirinya mengambil peran?
Meragukan Bian?
"Menurut Bapak-Bapak sekalian, siapa yang bakal lebih unggul?" Pertanyaan Briana tanpa memutus tatapan, menekan resah, seolah sedang dalam ajang lomba. Kalau saja ada popcorn di dekatnya, Briana akan menikmatinya sambil menyaksikan dari dalam.
Sopir dan Pengawal saling berpandangan. "Kami hanya mengenal Tuan Takahara, Nona."
Briana mengangguk. "Jadi, menurut kalian Ren yang akan menang?" Melupakan suasana tegang yang membumbung. Mobil-mobil yang terparkir, gemerlap dalam ruang, diikut sertakan petikan alat musik instrumental Jepang, Koto, yang samar. Seharusnya sudah menunjukkan, kalau malam ini, bukan sekedar malam biasa. Ada pesta; kecil-kecilan. Sebuah kerendahan paradikme sungguhan.
Tak ayal, Sopir dan Pengawal kembali saling tatap.
"Menurut saya, yang lebih berani, yang akan lebih unggul, Nona." ujar Pengawal hati-hati.
Briana memecah pandangan dari Bian dan Ren yang terlihat bersitegang. Mulut mereka tak bergerak seolah sedang dalam pembicaraan, bahkan sejak Bian berdiri di hadapan Ren yang melunturkan senyuman—aura yang sama, seperti setiap Briana tak sengaja melihatnya menerima panggilan seseorang. Briana mengalihkan pandangan, ke depan. Menggumam."Yang lebih berani ya?"
Sopir dan Pengawal yang duduk tegang di depan, bergantian mengangguk. Melirik cucu perempuan tuannya, yang sama seperti cucu lainnya, suka membuat kegaduhan. Sampai kapan mobil akan berdiam di halaman? Terakhir kali, mereka menjemput cucu tuannya, Sen Yanai, dari perkelahian di sarang perjudian, Shanghai.
Ingatan membawa Briana, pada apa yang akan dirinya lakukan jika dalam situasi sekarang; terdesak, tak tentu arah. Ingatan membawanya pada adik Papanya, Takashi Yanai, Ayah dari Sen dan Ken Yanai yang berhasil menikahi gadis Cina-Singapura, meski pelik juga turut serta mengikutinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Novela JuvenilBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
