R.I.P. 2 My Youth - The Neighbourhood
—
Hawa dingin. Alas tubuh lembut. Aroma coklat, kayu, menyatu pada bunga saffron dan jasmine. Meninggalkan kesan warm spicy.
Briana merasa dirinya berhalusinasi.
Atau bermimpi?
Kalau benar bermimpi, Briana ingin cepat-cepat bangun dari mimpi ini, sebab, bagaimana bisa Briana berakhir seperti ini? Di kondisi dan posisi seperti ini? Di tempat ini?
Tempat asing yang Briana tebak salah satu kamar dari unit apartemen yang biasa ditempati mahasiswa-mahasiswa kampusnya. Tunggu—dia berada di apartemen mana sekarang?
Batin Briana ingin menjerit frustasi, tetapi tubuh Briana yang syok masih terbujur kaku di bawah selimut abu-abu tebal yang menutupi tubuh tak tertutupi sehelai kain. Di antara gelapnya kamar karena gorden belum disibak, juga lampu belum dinyalakan. Briana butuh mengingat-ingat atas apa saja yang dirinya lakukan semalam. Apakah dirinya melakukan one night stand?
Tidak... jangan sampai... buru-buru Briana menepis pikiran itu. Membawa ingatan yang sebenarnya.
Briana sempat mendatangi pesta sesat di rumah Ojiichan dan Obaachan. Oke. Mengetahui rencana gila pertunangannya dengan lelaki bernama Ren Takahara. Ya. Meninggalkan pesta dan keluarganya seperti tokoh tersakiti. Hm. Mendatangi clubhouse... mata Briana terbelalak, dirinya sempat ditempelin mantan serupa setan gentayangan—Bian. FUCK.
Tanpa menimbulkan suara, Briana refleks mengacak rambutnya. Ini semua terlalu memalukan. Lebih mengerikan dari melakukan one night stand—walau Briana belum pernah coba melakukannya. Briana mengusap kasar wajahnya berkali-kali bagai terbebani masalah negara.
"Can you be calm?" Adalah suara serak lelaki di pagi hari. Di samping kanan Briana, sosok yang Briana yakini seratus persen dalam kondisi sama sepertinya—tak berbusana—sedang tidur memunggunginya. Tenang sekali seperti tak memiliki beban, luar biasa menakjubkan! Setan! "Sleep again."
Briana sudah menyiapkan kepalan tangan untuk menonjok si lelaki kurang ajar, sampai kemudian Briana sadar, kalau dirinya sampai ke posisi sekarang... berarti, Briana sendiri lah, yang menjebloskan dirinya ke pusaran menyesatkan.
Menarik kembali tangannya, Briana terdiam. Kilas balik kejadian semalam mulai berdatangan, seumpama film pendek yang diputar, dipercepat. Sesaat, tatapan Briana memaku pada punggung lebar lelaki di sebelahnya. Mengingat, ketika lelaki itu menawarkan afeksi sesat. Ungkapan atas keinginan tautan bibir yang serta merta Briana tolak.
Briana tipsy, tapi semuanya, masih berada di jalan yang tepat, sampai tragedi ketumpahan minuman yang baru ia pesan, membuat kuning kalem kimono Briana mencetak noda pink terang. Lantas, Briana berlalu begitu saja dari hadapan Bian. Menuju toilet, melalui lorong clubhouse yang temaram.
Sekeluar membersihkan pakaian, Briana tidak tahu, bagaimana reaksi dirinya yang seharusnya; terkejut, terperangah. Menemukan Bian sudah berdiri di hadapannya. Dengan tatapan intens lelaki itu diarahkan lurus kepada Briana yang ingin langsung pergi, tanpa menghiraukan keberadaan Bian.
"Minggir." hardik Briana, sebab Bian yang tak menunjukkan ekspresi apa-apa menghalangi jalannya secara sengaja. Lelaki itu merapat, mata Briana berkilat. "Bian!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Ficção AdolescenteBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
