29. Blue Ocean

16.8K 1.4K 214
                                        

Atlantis - Seafret

Ada topik-topik pembicaraan yang sengaja Briana bawa untuk ia diskusikan dengan keluarganya kala akhirnya Briana mulai paham beberapa fakta. Seperti misalnya mengenai kendaraan. Briana memahami bahwa kendaraan yang dinaiki seseorang bukan hanya untuk menghantarkan ke tempat tujuan, tetapi juga bisa menunjukkan derajat sosial; seumpama, kelas untuk target spesifik market.

Mengetahui ini, Briana memutuskan Toyota Alphard adalah safe car-nya selama ia diantar jemput sopir di Indonesia. Bukan Rolls-Royce, apalagi Toyota Century. Terkadang, Maybach masih ia perbolehkan. Apapun, asal keesokan harinya Briana tidak menjadi topik hangat, ia tidak mau jadi bahan pergunjingan hanya karena mobilnya yang terlihat seperti limusin.

Namun, sekarang, beberapa menit setelah Briana menerima telepon dari Sen Yanai, yang seharusnya menikmati kue warna-warni khas peranakan di rumah megah sang Ah Ma di St. Amalfi, Singapura. Briana mendapati dirinya yang nekat, terdiam di tempat. Bak sudah menduga cepat atau lambat jemputan—jika memang seperti jemputan bukan penculikan—datang.

Padahal, Briana yang duduk di atas bangku bakso—bangku plastik warna biru berkaki empat tanpa punggung yang membuat pegal—sedang menikmati sate taichan—yang jadi terasa hambar—di salah satu kedai angkringan Senayan.

Bersama Bian, tentu saja.

Temannya itu tidak meninggalkannya barang sedetik pun. Bagai takut Briana akan ditelan kerak bumi jika dirinya lengah. Cukup hiperbola. Tapi mereka bukan cuma berdua. Ada teman-teman mereka juga yang telah sampai duluan di sana, bahkan Ray benar-benar menyusul walau wajah lelaki itu terlihat kuyu dan masih harus fokus memandangi iPad untuk memelototi istilah ilmiah.

Pun, Erica. Salah satu perhatian Briana.

Bersama-sama, mereka memesan masakan yang diperdagangkan di kaki lima, namun memiliki cita rasa juara. Hasil berjalan menyusuri jalanan semerayak dipenuhi para pedagang, pemburu makanan malam, kendaraan terparkir, pun yang berlalu lalang. Asap merebak di udara dari bakaran sate; ayam, kambing, sapi. Nasi, mie, dan kwetiau diongseng gurih, menggugah. Sop-sop mengepul hangat menyegarkan tenggorokan. Dinginnya es campur membuat syahdu suasana berduaan.

Mundur, pada beberapa menit sebelum tiba, masih di GBK. Tepatnya di dalam g-class Bian yang jadi terasa pengap oleh napas yang terperangkap, di saat seharusnya dipenuhi aroma ballroom hotel St. Regis New York yang menyegarkan dari pengharum mobil Bian. Briana tahu, remasan jemari Bian yang bertaut dengannya, sedang memberi kekuatan, meski lelaki itu tidak tahu ada apa gerangan.

"Berita baik," Pilihan Briana seraya membalas tatapan lekat Bian. "Walau kayanya gue tahu berita baik apa yang bakal lo kasih."

"Gue nggak yakin ini bisa dikategoriin sebagai berita baik," Sen di seberang menjeda. "Jadi, tergantung lo nerima berita ini gimana," Berhenti, Sen memberi Briana waktu lagi. Melanjutkan hati-hati. "Gue udah dapet informasi mengenai Erica dari detektif swasta yang gue sewa."

"Go on." Briana mempersilahkan.

Ingatan membawanya saat tadi mendapati Erica menghubungi seseorang di belakang tembok tinggi putih jajaran bangku penonton. Seharusnya cukup tersembunyi untuk orang lain memergoki kalau saja Briana tidak penasaran dengan gelagat gadis itu yang tak biasa—tetap mempesona dalam kemeja linen peach dan white capri. "Ya, I can't be pregnant with you."

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang