18+ Alcohol, drugs, harsh words. Terlalu banyak.
—
Bad Guy - Billie Eilish
—
Okay... masih percobaan pertama...
Terhitung sudah yang ke sekian kali, ingatan akan perkataan Bian hilir mudik di kepala Briana. Padahal pekan sudah berganti lama. Tapi tetap bisa membut hari-hari yang seharusnya dimulai dengan suka cita, malah keruh tak bersisa.
Bahkan, mengonsumsi permen-permen manis kesukaannya sebagai dopamin juga ternyata 'tak berguna. Alhasil, umpatan dan ringisan sesekali dikeluarkan sebagai jalan untuk menyalurkan kesal.
Larut dalam lamunan. Lambat laun hilang kesadaran. Tubuh Briana menjadi ringan. Sampai membuat pergerakan kakinya tak beraturan. Tangannya mengayun tak terarahkan. Hal yang tidak benar, sebab dilakukan sepanjang olahraga bersenjata pedang, yang sedang ia langsungkan.
"Bri?"
"BRI?"
"BRI?!"
"BRI!"
"MED!"
Sekejap, kesadaran Briana kembali. Sebab teriakan sekuat tenaga dari seseorang, yang dilakukan di dekatnya, cukup membuat tubuh Briana berjengit. "Apasih, 'Ken?!" Pedang masih di tangan, Briana melepas pelindung muka. Mengerutkan keningnya.
"Lo budeg apa kesambet?" cecar seorang lelaki bertubuh tinggi, proposional. Ken Yanai. Salah satu sepupu Briana. Adik dari Sen Yanai, yang merupakan putera dari adik kedua Papa-nya. "Gue seratus persen yakin, dua-duanya." nyinyir lelaki yang masih mengenakan atribut fencing. Minus pelindung muka yang telah lelaki itu buka paksa.
Menemukan Briana lagi-lagi mengacuhkannya, suara Ken kembali bergema. "Med!" Naik beberapa oktaf. "MED!"
"Shut up, Ken! Stop calling me Med!" hardik Briana jengah. Melindungi telinganya dengan tangan. "And, by the way, suara lo udah ngalah-ngalahin konser Giant!"
"Anjrit, Medusa!"
Briana memutar bola mata. Sudah biasa menjadi manusia menyebalkan bagi Ken yang banyak drama.
Di ruangan besar, berpilar-pilar. Bermandikan cahaya keemasan, kekuningan, yang diperuntukkan olahraga fencing. Ken menyedekapkan tangan. Diikuti alis rapihnya yang bertautan. "Spill."
Tuntutan dari Ken membuat Briana melengoskan wajah. "Nope, I'm sipping my tea."
"Gue doain lo keselek." sewot Ken menanggapi, berkacak pinggang bak algojo siap mengeksekusi. Briana bersungut-sungut keki. "Kalo doa tuh yang bener!"
Menghela tipis. Ken menurunkan tangan di samping tubuh. "Makanya, kenapa?! Lo keliatan banget lagi galau." komentarnya. "Gerakan lo berantakan. Tangan sialan lo hampir nusuk gue, mau bunuh gue, lo?! Mata lo juga nggak fokus, kayak ayam mau mati, Med—"
Briana melotot, sebab penuturan asal, juga dirinya yang kembali dipanggil Med—Medusa.
Ken melengos, mendramatisir. "Bri," ralatnya penuh tekanan. Med, Medusa, adalah panggilan kecil dari Ken untuk Briana. Sebab katanya, kelakuan licik Briana mirip dengan si gurita setengah manusia. Ada-ada saja. "Nah, diem lagi 'kan lo! Aneh banget suer kalo lo diem gini! Ngeri!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
