Daylight - Taylor Swift
—
"Koi No Yokan."
Bian menoleh pada Keisuke yang berdiri di sebelah kanannya. Mengenakan sepasang button up shirt light beige dengan trousers deep taupe Brunello Cucinelli. Sosok pria paruh baya yang Bian hormati itu, sedang memandang lurus pohon yang Briana bilang adalah pohon kesukaan Papinya, tennessee tree. Pohon rimbun berbatang besar, berdahan landai. Daun oranye halus-nya seperti labu di musim gugur kala masak. Terang, menandingi kilau petang yang magis, tersapukan suara nyanyian alam yang menyuar untuk mengantarkan pulang. Ada senyum teduh terpasang di bibir pria itu. Matanya yang lembut berbinar atas hujam cahaya keemasan.
Berdiri berdamping-dampingan usai mengobrol santai, hening setelahnya. Samar gemerisik suara air sungai buatan yang mengalir dari air terjun, berakhir pada kolam ikan koi yang berenang tanpa riak, terlalu tenang. Ramai jauh dari dalam rumah atas peralatan makan, halus, bergemerincing. Cicit kumpulan burung yang terbang bersamaan, kendaraan di jam pulang. Harum atas bunga mekar menari, tanah dan rumput basah terayun, air sungai menggenang, dan masakan. Detik berjalan sebelum langit menghitam, menunggu makan malam yang sedang disiapkan. Ini sudah ke sekian kalinya Bian diundang makan bersama keluarga Briana. Setelah mereka belajar bersama, sebenar-benarnya kencan.
"That's a beautiful japanese phrase," beritahu Keisuke. Senyum lembutnya kian mengembang, tatapan masih ke depan."Different from love at first sight, Koi No Yokan means a premonition of love."
Bian mendengarkan, belum berkomentar.
"Saat pertama kali bertemu dengan seseorang, sulit rasanya menafsirkan bahwa perasaan takjub yang diiringi debar di jantung adalah cinta. Sebab bisa saja rasa terpesona, tertarik, atau hanya penasaran,"
Suara Keisuke yang tenang, terdengar dalam.
Sedalam kerikil yang terdorong angin, perlahan menggelinding ke dasar kolam. "Pertama kali saya bertemu Mami Briana di kastil keluarga Diamour de La Gaulle. Chateau du Panthéon di Loire Valley. Saya menerka-nerka dengan mata saya yang tak mau dialihkan darinya. Kalau saya bertemu lagi dengannya, entah di pertemuan kedua, ketiga, atau pertemuan-pertemuan ke sekian kalinya, di tempat, waktu, dan keadaan yang tidak saya duga-duga, saya akan jatuh cinta dengannya." tatapan pria itu jauh.
Keisuke menoleh halus. Bertemu pandang dengan Bian dalam suasana menenangkan. "Your parents also have Koi No Yokan," ujarnya. Tatapan seteduh rindang pohonnya menatap Bian. "When William and Valencia both met each other for the first time, I knew that time... there would be something magnificent coming in between the two of them."
Sesaat, tidak ada yang bersuara. Bian bagai terpaku di tempat. Mendalami perasaan syahdu semilir angin dan suara-suara jauh berirama tidak bising.
Bian tidak ingin terbebani oleh gundah perandaian.
"Kalau kamu?" tanya Keisuke tanpa tuntutan. Tak sedikitpun senyum pria itu luntur. "Apa sudah merasakan Koi No Yokan?" Percik netra pria itu selalu penuh makna. Seolah bait-bait kata yang dikeluarkannya hanya penutup dari barisan arti yang sebenarnya. "Koi No Yokan terdengar mirip dengan ungkapan cinta pada pandangan pertama, tetapi sebenarnya berbeda. Koi No Yokan memiliki arti yang lebih dalam. Tidak berlebihan. Perasaan yang hadir pada pertemuan pertama terasa lebih halus. Tenang... atas keyakinan dari firasat bahwa jika takdir, di pertemuan-pertemuan berikutnya, perasaan yang awalnya halus, menjadi lebih kuat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
