A Boy Who Swallowed A Star

29.9K 1.2K 844
                                        

The Boy Who Swallowed A Star - Joe Hisaishi—

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

The Boy Who Swallowed A Star -
Joe Hisaishi

Singapore, 23 Desember 2023

"What are you wearing Elizabeth Tjokrowinata?!"

Mengalahi alunan musik natal yang berkumandang dari gramofon tua antik pemberian Duke of Edinburgh. The Christmas Song by Nat King Cole, bergulir pada White Christmas yang mengudara pada 1947. Seruan kencang tersebut bukan hanya mengagetkan sosok yang ditegur, tetapi juga Bian yang berjalan dalam balut kemeja lengan panjang linen putih tulang yang digulung dengan bawahan celana khaki santai. Melewati deret lukisan, mendekat di mana keluarganya berada.

Tersenyum kecil, Bian telah terbiasa. Terdengar decakan salah satu bibinya, Adriana Jiang yang baru tiba tadi pagi dari Paris usai menjalani pekan gila—pekan mode-nya, dengan bertapa di ballrooom megah rumah fashion dunia, setelah sebulan tidak pulang ke rumahnya di Bel Air, sambil dibisiki entah sindiran apa oleh bibinya yang lain, Cathrine Kwok dengan mimik wajah menghardik. Wanita bergiok itu mengusap dada, rautnya terkesiap syok ketika balasan Elizabeth mengudara, membalas ibunya.

"New romantic's themed clothes? It's all from Vivienne Westwood," Mata manusia yang ada di sana sontak memicing. Termasuk Edwin Tjokrowinata yang duduk di sofa utama ruang bersantai keluarga mereka yang berlangit tinggi, bergaya art deco, dikelilingi jendela kaca besar.

Langsung disuguhkan pemandangan luar sore atas pepohonan dan tumbuhan di kebun bak hutan pinus kota oregon yang disulap oleh hiasan natal, magis memukau, semuanya berkilauan, oleh gemerlap lampu kuning yang menghiasi. Edwin sudah melotot. Avalana Cheung di sebelahnya hanya menghela napas atas kelakuan cucu perempuannya yang nampaknya tidak bisa diselamatkan untuk lebih anggun. "Dan sebelum Mama mengeluarkan komentar salah, Mama harus tahu, that her works, are inspired by the 17th and 18th century arts."

Seperti tabiat keluarga mereka, dagu Elizabeth terangkat pongah. Percik matanya penuh tantangan. Melenggang dalam balut corset-bodice hitam dengan rok silver teramat pendek yang tak akan disukai calon mertua manapun, menuju tempat kosong di sebelah sepupu perempuannya, Aubrey, yang asik ber-selfie dengan saudarinya, Gienka.

Sempat dilempar kerling ledekan oleh sepupu lelakinya, Alvonsius, yang berdiri di sudut ruangan bersama Lyon sambil memegang sampanye dan wine di tangan masing-masing. Elizabeth yang melewatinya, menaikkan sebelah alis, angkuh.

"And, Ma," tambah Elizabeth. Florence Tjokrowinata, sang ibu sudah sangat pias. Wajahnya memerah bagai siap meledak."Can you stop calling me Tjokrowinata? I'm Elizabeth Tao. Daddy surely still alive and healthy, you don't pray for his death, right?" Sambil melirik manis sang Papa, Andy Tao, yang sedang santai membaca kolom Bloomberg secara online melalui iPad-nya. Tidak memusingkan drama keluarganya. Ia hanya menggeleng kecil.

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang