Why'd You Only Call Me When You're High?
—
Setengah berdecak. Kedua tangan Briana bertengger di pinggang, bak ibu kosan yang siap mengeluarkan lahar pada penghuni yang terus-terusan menunggak bayar. Usai mengarungi gemerlap kelab malam di bilangan Senopati, Briana yang hanya mengenakan kamisol ditutup kardigan dan short pants, juga sendal teplek, berdiri di hadapan manusia-manusia yang siap dieksekusi.
Alis Briana yang menukik heran, berganti kerutan di kening dalam. Mendapati tubuh Bian yang tak bisa disebut kecil, telah memenuhi seluruh ruang sofa private table, bekas lelaki itu dan Axel tempati. Briana menoleh galak pada si peneleponnya tadi.
"Kok bisa sampe begini?! Minum racun?!"
Axel meringis tipis. Melirik temannya yang teler. Belum menyadari sang pujaan telah tiba. Axel sengaja menabok lengan kekar Bian yang mengulet mendengar suara beroktaf-oktaf Briana. "Racun tikus maksud lo? Nggak mempan dong... buaya dikasih racun tikus..."
Melihat Briana yang lantas menggeram, kian menajamkan tatapan, Axel mengangkat tangan. Untuk kali ini menjawab secara benar. "Tadi gue udah bilang di telepon, nggak tahu, Bri. Gue juga heran, tumben-tumbennya Bian minum bergelas—berbotol-berbotol sampai begini."
"Berapa botol?" selidik Briana. Tak memusingkan penampilannya saat ini yang ala kadarnya. Rambutnya dicepol setengah berantakan, menampaki peluh di tengkuk, di pelipisnya, gerah.
Dagu Axel mengedik, matanya melirik meja di hadapan mereka. Sebuah saksi dari ditandaskannya berbotol-botol dan bergelas-gelas alkohol. Bekas makanan. Beberapa puntung rokok bekas hisapan, abu yang terbakar, asbak yang dipenuhi kekacauan. Juga, pembicaraan, melantur; ringan ke berat. Banyak. Pembahasan dari kegundahan hidup lelaki umur awal dua puluh tahunan.
Mendengar decak kasar Briana yang sedang mematrikan pandangan pada tubuh tergolek Bian yang kacau, Axel samar menyeringai, buru-buru dihapuskan, kembali memasang raut sungkan.
"Sekali lagi thanks karena lo udah bersedia dateng, gue... salut banget sama lo yang berbesar hati, mau bantuin mantan—"
"Diem lo." Ekor mata Briana dihunuskan sengit. "Ini cuma salah satu bentuk kemanusiaan. Bantu orang susah!"
Sedikit amaze oleh apa yang Briana katakan. Axel menaikkan sebelah alis. Mengangguk-anggukkan kepala. Mengulum senyum tipisnya yang tak tahan untuk diulas lebar. "Okay. Bentuk kemanusiaan," imbuh Axel. Menahan kekehan. Memasukkan tangan di saku celananya. "Tepat sasaran, Bian emang orang susah." Susah move on. "Jadi, tolong bantu dia ya, Bri?" Jelas, perkataan Axel tersirat makna, sindiran jenaka.
Briana yang menangkap maksud dari perkataan temannya memutar bola mata. Tak memberi tanggapan apa-apa, sampai akhirnya Axel mulai mencoba mengangkat tubuh Bian lagi dibantu bodyguard di sana. Bian kembali mengerangkan penolakan, sehingga Briana, atas dorongan Axel, mau tidak mau, menampaki diri di hadapan Bian.
"Bee?" Mata lelaki itu sayup terbuka. "Beneran kamu?" tangan Bian terangkat, terulur, hendak menyentuh sisi wajah Briana yang sontak mundur.
Raut sayu, terpekur Bian setelahnya karena penolakannya, membuat Briana mengeraskan wajah. Axel memberi lirikan. Perang batin bergejolak di dalam diri Briana. Pertama, tidak seharusnya Briana seperti ini! Berada di sini, yang sungguh telat untuk menyesalinya. Seharusnya Briana biarkan saja, bukannya malah mengalah, dan membiarkan tangan Bian mengelus sisi wajahnya! Bobrok sekali pertahanan diri kamu Briana!
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Fiksi RemajaBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
