Evermore - Hollow Coves
—
Briana selalu ingat awal mula dirinya begitu tidak menyukai Natasha. Saat mereka masih di taman kanak-kanak. Sekitar umur lima, beranjak enam tahun. Di tahun 2005. Briana pindah dari Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, model rambut Briana yang pendek, sebab dirinya iseng memotong rambut sendiri, membuatnya terlihat seperti anak laki-laki. Lalu, entah bagaimana, anak berusia lima tahun di sekolah barunya sudah mengetahui sejarah kelam antara Jepang dan Indonesia.
Sebenarnya, Briana juga tahu. Papi sesekali menceritakannya saat mereka masih tinggal di Jepang, pun setelah mereka pindah ke Indonesia. Tidak seperti pemerintah Jepang yang menguburnya. Tidak seperti Ojiichan yang akan menyuruh Papi untuk menutup mulut karena katanya; cerita itu tidak baik disebarluaskan, apalagi ke anak-anak seperti Briana.
Memang kenapa? Briana berhak ikut merasa bersalah, sebab separuh lebih dirinya adalah keturunan penjajah yang keji.
Menyebalkannya, Natasha menggunakan kedua itu sebagai bahan untuk mengolok-oloknya. Briana si tomboy, Briana anak laki-laki, Briana tidak cantik, Briana penjajah, Briana yang jahat. Jangan ada yang mau berteman dengan dirinya. Natasha melakukannya sendiri, sebelum teman-teman gadis itu ikut serta, membentuk tim yang menjauhinya.
Briana sukses tidak memiliki teman.
Jahat. Natasha jahat seperti penyihir. Itulah yang ada si pikiran Briana setiap melihat Natasha dan teman-teman gadis itu sambil Briana memasang wajah siap berkelahi. Bagaimana bisa anak umur lima tahun memiliki pikiran dan ucapan yang begitu jahatnya? Apa ini salah orang tuanya? Atau lingkungannya? Atau memang karena gadis itu saja yang terlahir untuk ditetapkan sebagai calon penyihir di neraka?
Nyatanya, Briana tidak takut.
Bukannya menangis, Briana memilih mengamuk dengan menjenggut sekuat tenaga rambut indah Natasha sampai rontok, tak berbentuk. Lantas, orang tua Briana berujung dipanggil ke sekolah dan dirinya lah yang berakhir disebut penyihir jahat oleh anak satu sekolah.
Tidak apa-apa, Briana lebih baik dimusuhi daripada menjadi anak yang mudah mencela orang lain. Briana pernah bertanya-tanya, menarik kesimpulan sendiri bahwa selalu ada sebab akibat atas sifat seseorang. Jadi, Briana berusaha menelan kembali cercaan apapun yang hendak dilontarkan.
Di sisi lain, Papi tidak memarahi Briana, hanya menasehati, sebab Papi akan selalu tahu kebenarannya. Hanya Mami yang terus menggerutu sambil menenteng Birkin kesayangannya, dan sepulangnya, Mami menjadi terobsesi untuk memanjangkan rambut Briana. Membuat Briana menjadi yang tercantik di sekolah.
"I hate it here." bisik Briana, pada angin yang melewatinya, saat dirinya merasa duduk sendirian di dekat papan perosotan sekolahnya. Anak-anak lain sedang di dalam ruangan. Begitulah sejauh penglihatan Briana yang hanya mendapati ayunan, perosotan, papan jungkat-jungkit, dan papan untuk bergelantungan yang tak ada orang.
Namun ternyata, tidak seluruhnya benar, sebab ada suara pelan yang menyahutinya. "You do?"
Tidak melihat eksistensi orang lain, Briana mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri, bergidik pelan saat kepalanya mendongak melihat pohon besar di sampingnya. Briana tidak tahu itu pohon apa, tetapi cukup melindunginya dari terik menyengat yang membuat pipinya memerah.
"Who are you?" tanya Briana pada entah siapa, namun tidak ada sahutan. Melirik pada celah di bawah papan seluncuran. Briana bangkit dari duduk, mengintip celahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Genç KurguBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
