22. Cherry Wine

22.6K 1.7K 257
                                        

Union - Her

Lembah hijau Kamikochi merupakan satu dari banyaknya saksi atas limpahan kasih sayang yang diberikan Papi kepada Mami. Briana selalu menyukai interaksi kedua orang tuanya. Bagaimana perlakuan-perlakuan Papi kepada Mami, baik disadari atau tidak, dilakukan dengan penuh cinta. Hujaman perkataan dan tatapan berbinar. Briana kadang sengaja mengambil jarak di belakang ketika mereka berjalan, untuk menyaksikan.

Mempertanyakan, apakah Mami menyadari seberapa berkilaunya bola mata Papi, ketika memandangi Mami diam-diam. Saat Mami tersenyum, tidak menghadap Papi, melainkan pada jernihnya sungai Azusa yang mengalir melewati gunung Hotaka dan Yake. Bahkan Papi akan tertawa ketika Mami mengeluarkan celetukan tidak penting seperti, mengapa tidak ada bebatuan yang disusun untuk menyebrangi sungai?

Di saat kita semua tahu, anak sungai itu dangkal.

Papi sering menghadiahi Mami gombalan, rayuan, pujian, mengiringi hari-hari keluarga mereka yang ramai oleh obrolan. Terkadang gitar dimainkan oleh Papi kala makan malam usai. Di serambi rumah yang menghadap halaman samping, cerita ditukar. Memandangi bulan. Ditemani gemerisik air sungai. Indahnya cahaya lampu dari ruangan dipantulkan ke dahan pohon bak pualam. Briana menumpu dagu, tengkurap di atas tatami, di depan shoji.

Memperhatikan punggung Mami yang menyandarkan kepala di bahu Papi. Briana berandai-andai, apakah ia bisa mendapatkan sosok seperti Papinya nanti? Sosok yang diam-diam perhatian, yang tidak segan mengeluarkan rayuan. Perkataan dan perbuatan manis, yang Briana yakin, akan kegelian saat benar-benar menghadapinya.

Geli. Benar. Briana merasakan geli merayapi.

Perlahan, rambut-rambut halus di tangannya berdiri. Tengkuknya meremang, terasa sulit digerakkan. Hanya karena mendapati perlakuan seseorang yang seharusnya Briana larang: Bian, seperti dulu mereka saat pacaran, mengambil tas Briana begitu saja, untuk lelaki itu bawakan.

"Biar gue aja yang bawa, nggak enak kalau ada yang lihat, Bi!" Apalagi Fiora yang masih berdiri di depan kelas, tertinggal di belakang mereka yang sudah pasti melebarkan mata. Sebab Bian, ternyata menjemputnya. Briana sampai enggan untuk menolehkan kepala. Berita dirinya yang akan ke apartemen Bian untuk 'main' 'nonton bareng' sudah terendus teman-temannya. Nessa bahkan sudah melempar protesan. Berjanji akan menunggu Briana di kosan. Briana menekan perkataan. "Bi!"

"Aku aja, Biar bahu aku imbang." Bian beralasan. membenarkan letak Arco Tote Briana di bahu kiri, sedang bahu kanannya terdapat drafting tube. Briana yang melihat punggung Bian juga terdapat tas ransel, mengernyit, melihat seberapa penuh bawaan lelaki itu sekarang. "Bian."

Mendengar panggilannya, Bian menoleh. Menunjukkan raut tak berekspresi, sebelum samar menarik senyum simpul. Beberapa detik mereka bertatapan, Briana tahu, maksud kerlingan mata Bian. Jadi ketika tautan mata mereka dirasa cukup, Briana memutar bola mata. Pura-pura jengah.

"It's fine, Sayang."

Tuhkan!

"Lo—"

"Axel bilang, panggilan sayang di antara teman, boleh-boleh aja. Sebagai bentuk keakraban?"

"Bian—"

"But nah, untuk ini, kita memang sudah akrab."

"..."

"Kamu sadar seberapa akrabnya kita 'kan?"

"Jangan manggil sayang sembarangan!"

"Oh..." Bian terlihat berpikir. Atau pura-pura berpikir? Masih sambil jalan bersisian di lorong Fakultas Ekonomi. Sebelah alis Bian terangkat. Senyuman jahil terpasang. "Panggilan sayang ke kamu, cuma ke kamu, itu sembarangan?"

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang