32.2 Wildflower Wildfire

16.6K 1.2K 234
                                        

High Hopes - Kodaline

Indonesia, 5 years ago (2014)

"Lo darimana aja?"

Adalah pertanyaan Tamara, ditepis Briana, secara lesu duduk di bangkunya. "No comment, Tam." Tanpa intensi, suaranya terdengar datar seolah tak minat. Briana menopang pipi kanan, menoleh pada jendela di sebelah kiri. Teringat yang terjadi tadi.

Matanya bersibobok dengan Bian.

"Pantes nggak makan bareng, ternyata beli makan dari restoran michelin star." komentar Tamara, diangguki Ferel. "Padahal, Stevan daritadi nyariin lo Bri." tuturnya.

Menoleh kepada kedua temannya, Briana tidak lagi mendengarkan kata selanjutnya, hanya sampai dirinya yang beli makanan. "Gue nggak beli makan." herannya. Meneliti meja, kenapa Briana baru sadar ada bungkusan?

"Ini punya siapa?" Briana mengangkat bungkus makanan tersebut. Melirik ke sekeliling kelas periode kedua setelah istirahat pertama, namun siswa di kelas itu tak nampak ada yang memilikinya.

"Lo tanya gue? Gue tanya siapa?" tanggap Ferel, mencuri lihat ke dalam bungkusan paper bag, menemukan kotak makan. "Tapi ini jelas-jelas di box-nya ada nama lo Bri. Briana Diamour."

"Tapi gue nggak beli... gue bahkan nggak tau kapan dan gimana bisa bungkusan ini ada di meja gue? Ini bungkusan, barang sihir? Punya kaki?"

"Ngaco. Nyokap, Bokap lo? Dianterin Pak Satpam, waktu lo nowhere-to-be-found?"

"Oh," sahutnya singkat. Briana meneliti bungkus makanan restoran bintang lima tersebut. "Maybe?"

Ada namanya 'kan? Berarti buat dirinya?

"Yaudah makan dulu deh, mumpung masih ada waktu lima belas menit sebelum kalkulus. Jangan sampai lo mokat gara-gara pusing." ledek Tamara. "Kasian suster UKS. Lo nyusahin kalau sakit."

"Sembarangan lo." cibir Briana. Padahal rasa lapar sudah ia tahan sampai hilang, tetapi dihadapkan lagi dengan makanan, lebih-lebih seperti ini– "Ah, laper banget!" Briana tidak bisa menahannya lagi, buru-buru membuka kotak. Terlalu bersemangat.

Sudah tidak memusingkan lagi berasal darimana bungkus makanan ini; untuk selanjutnya mata Briana berbinar. "Daging! Pas banget gue lagi pengen makan daging! Siapa sih, ibu peri gue?"

"Bri," Ferel menyerebot ke sebelahnya. Mengalahi Tamara. Ikut melirik isi kotak makan. "Kayanya enak Bri." Wajah Ferel dan Tamara mupeng.

Seperti tampilan isi kotak makan yang menjanjikan, pun rasanya demikian. Porsi yang cukup banyak itu habis bukan hanya dengan Briana; Ferel dan Tamara ikut serta; bersama-sama mendesah atas nikmatnya daging melebur bersama saus mashroom.

Namun, saat sepulang sekolah Briana bertanya kepada Pak Satpam sekolah mengenai bungkus makanan tersebut; alih-alih mengetahui, wajah bingung Pak Satpam yang malah Briana dapati.

Lalu, kalau bukan Pak Satpam yang mengantarkan, siapa? Tepatnya... makanan itu dari siapa? Sebab Papi Mami juga tidak tahu-menahu, mengenai bungkus makanan itu.

***

Pendaftaran cheers club sedang berlangsung.

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang