Everybody Loves Somebody - Dean Martin
—
"How do you know?"
Adalah pertanyaan Briana untuk Bian setelah mereka berhasil menyelinap dari acara pesta, dibantu Pak Kismin, yang Briana hubungi untuk menjemput mereka di rumah Ojiichan.
Pak Kismin, salah satu supir keluarga Briana itu sempat terkesima saat kembali melihat Bian setelah sekian lama tidak diperbolehkan, bahkan hanya untuk menyebut namanya oleh nona mudanya—katanya, 'Bian' adalah salah satu kata terlarang.
Tadi, seketemunya mereka di bagian hutan lebat gelap rumah Ojiichan, untuk lebih meminimkan kepergian, Pak Kismin sempat menatap Bian tanpa berkedip. "Den patung Buddha?—" Menggeleng, Pak Kismin buru-buru meralat. "Den Bian? Beneran ini Den Bian? Udah lama banget saya nggak ketemu Den Bian. Pangling saya..." Pak Kismin tersenyum berbinar, Bian tersenyum kecil. Briana di sebelahnya menyematkan senyum bangga, tetapi selanjutnya luntur kala Pak Kismin berkomentar. "Seingat saya terakhir kali ketemu Den Bian, waktu Non Bri balik-balik nangis sesegukan sambil marah-marah—"
"Pak, udah Pak!" Mata Briana melebar, langsung melerai. Mendorong tubuh Bian untuk pergi dari sana, lekas masuk ke mobil. "Bi masuk mobil Bi! Nanti keburu kita ditangkep!"
Bian tergelak. Mengganti jadi dirinya yang menarik halus lengan Briana, sedang Pak Kismin lekas ke bagian pengemudi seraya menggaruk-garuk kepala linglung. "Non Bri masih saja malu-malu sama Den Bian..."
"Kamu nangis karena apa?" tanya Bian kala sudah duduk di dalam, lebih dahulu membantu Briana mengenakan seatbelt. Menyematkan usapan lembut di sisi kepala Briana yang wajahnya tertekuk, sudah sedari tadi menyuruh Bian menjauh. "Aku bikin kamu marah?"
"Hm." Briana mendengus, berpaling dari pandangan lekat Bian yang diam-diam dapat membuat gugup, menjadi menatap ke jendela samping. Pak Kismin yang melihat dari kaca spion geleng-gelang kepala, telah menyalakan mesin mobil. "Bee?" panggil Bian. Nampaknya sengaja meledek. "Nggak mau kasih tau aku?"
"Udah, udah lama banget kejadiannya," elak Briana, mendorong lengan Bian yang terus berusaha meraih bahunya. "Bi, ih! Udah jangan dibahas! Pak Kismin juga segala diungkit-ungkit!" rajuk Briana kesal.
Kali ini Briana melempar tatapan sengit pada Pak Kismim, berakhir di Bian, yang sontak tersenyum geli. "Biar aku tebak, karena mimpi buruk kamu?"
Bian hanya terlalu mengenal Briana.
Jadi, bukan mampu membaca pikiran, lelaki itu seolah memiliki kamus ingatan mengenai dirinya.
"Ih!"
"Mimpi yang mana?"
"..."
"Aku minum sama Nath?"
"Bian!" seru Briana yang lekas menggeser duduk dari menatap ke depan dengan bersedekap tangan, kembali menghadap Bian. "Jangan sebut nama dia! Itu salah satu kata terlarang!"
"Benar..." celetuk Pak Kismin paham, dihadiahi pelototan oleh Briana, lekas balik fokus ke depan.
"Okay..." suara Bian terdengar selembut angin laut. Tatapannya dalam, dengan senyum kecil di ujung bibir. Briana mengedip, menampik kikuk. "Maafin aku, Bee."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Ficção AdolescenteBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
