Dear Heart - Henry Mancini
—
Beberapa tahun lalu ketika matahari tidak lagi berada di atas kepala, telah menyingsing sedikit di perufuk cakrawala. Pintu kaca dibuka. Aroma masakan cepat saji menyambut kedatangan dua manusia; gurihnya kentang goreng dibumbui, ayam bertepung masak hingga keemasan mengkilat, minuman berbuih soda berbagai warna, hamburger berlapis-lapis isian. Eskrim lembut yang menghantarkan manis ke seisi mulut. Melingkupi ramai yang berdera, di antara pramusaji dan pelanggan, yang saling menantikan pesanan. Anak-anak bermain di papan seluncuran.
"Kamu duduk, aku yang pesan." Bian mengintruksi Briana, mulai mengikuti barisan menuju kasir. Bukan jam makan siang, antrean tidak begitu panjang. "Mau apa?"
Melirik papan menu yang digantung di balik penjaga kasir, Briana menelitinya sesaat sebelum menoleh kepada Bian. Menghembuskan napas pelan. "Mau tiket Coldplay, Bi." Parasnya tertekuk, bibirnya melengkung ke bawah. Mengusut ujung lengan kardigan kuning lemon chiffon-nya yang menutupi seragam. "Kok bisa ya aku nggak dapet tiket yang di London?"
Briana masih tidak percaya dengan cepatnya perebutan tiket konser musik yang baru saja berlangsung. Nampaknya, bukan hanya dirinya yang menantikan perhelatan band rock kelahiran Inggris itu. "Apa aku langsung hubungin pihak manajemennya aja ya?" Bian memperhatikan Briana yang terus bertutur, mengikut barisan yang maju, alih-alih memilih menu, lanjut mencari tempat duduk. "Kalau tetap nggak bisa, mungkin aku coba melalui salah satu menteri kenalan keluargaku? Tapi nggak apa-apa, ya, 'kan? Apa itu bisa disebut, curang?"
Sadar. Ringisan samar Briana keluarkan. "Heum, no. Ojiichan nanti tahu, yang ada aku malah dijemput paksa," Hembusan napas Briana seperti manusia putus asa. Lama tak ada suara, hanya langkah kaki maju mengikut barisan yang menyisakan satu orang di depan. Kepala Briana bagai mendatangkan lampu bohlam. Teringat opsi lain, matanya yang redup, berganti berbinar, terang.
"Sepupu aku! Aku bisa minta tolong sepupu aku yang ada di sana buat cariin tiket!"
Briana menjentikkan jemari, bermonolog. "Okay. All solved." Briana cukup yakin, dirinya bisa menonton band kesukaannya itu langsung di tanah kelahiran mereka. Meski mungkin nanti—pasti, Briana juga akan menantikan Asian Tour-nya. Sekarang, Briana beralih ke Bian, memasang senyum terpulas, tulus.
"Kamu bisa temenin aku nggak, Bi?"
Sebentar lagi, akan berganti mereka yang memesan makanan. Briana menambahkan. Masih menyertakan senyuman."Kalau nggak, nggak apa-apa. Aku sendiri aja, atau paling nanti sama sepupu-sepupuku..." Mood Briana membaik. Bian mengangguk; entah artinya apa. Kaki panjangnya melangkah, menggantikan orang sebelumnya. Menoleh pada Briana, saat penjaga kasir menatap mereka, usai melempar sambutan; ingin pesan apa? Bian bertanya pada Briana, lebih spesifik. "Kamu mau makan apa?"
Lantas, meninggalkan perihal Coldplay, Briana tidak perlu lagi melihat papan menu untuk tahu. "Samain kaya kamu aja ya, Bi." Saat itu, Briana tidak pergi juga dari sisi Bian. Malah ikut menunggu, hal-hal random diungkapkan, dari mulai kejadian di sekolah sampai di rumahnya. Mendatangkan lirikan Bian secara berulang."Bri—"
Teguran Bian yang ingin dilemparkan, tertahan, oleh Briana yang berbicara kepada pramusaji yang mulai mengisi baki mereka."Dibagi dua aja ya, Mbak, nampannya. Terima kasih." Bian ingin memprotes. Mungkin di pikiran lelaki itu, terlalu ringan untuk dijadikan dalam dua baki. "Aku bisa bantu bawain. Lagipula, aku udah nemuin tempat kosong. Nih... dari sini udah aku tandain, kita bakal duduk di situ."
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Novela JuvenilBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
