New Rules - Dua Lipa
—
"Okay, let me explain in a quick way. Judgement, waktu untuk berubah, keputusan. Lo harus hati-hati dalam membuat keputusan Bri, apalagi yang menyangkut masa lalu. Kalo bisa, lebih baik lo baikan sama masa lalu lo itu deh," Nessa menarik napas sejenak, memperhatikan raut skeptis Briana.
Merasa aman melanjutkan, Nessa kembali menjelaskan. "Next, the devil, ketergantungan, nafsu, impulsif. Lagi-lagi berkaitan sama keputusan dan masa lalu. Tapi kali ini, lo harus hati-hati sama komitmen, termasuk hal-hal manipulating. And..." Nessa menggantung ucapannya. Meski Briana saat ini terlihat garang, tetapi jelas ada percik penasaran."The death. Akhir, mengulang kembali, berubah. Bri, you should face your fears..."
"Okay, done. I won't hear it anymore." Briana mengangkat tangan, memberi lirikan tajam pada Nessa untuk berhenti, di saat yang lain ternyata ikut mendengarkan.
"Biarin gue selesain ini dulu, okay? Nanggung." gigih Nessa. Tanpa menunggu balasan Briana yang mengatupkan bibir rapat. Nessa melanjutkan. "Setelah lo berbaikan dengan masa lalu. Lo harus buang sial, I mean singkirin semua tentang masa lalu lo itu, biar masa depan lo bisa masuk."
Kening Briana berkerut, dirinya memutar bola mata. Merasa jengah, Briana mengambil bir dari atas meja. "Whatever Nes, gue nggak percaya yang begituan—"
"Bri sempet ngajak Fiora baca tarot." celetuk Fiora santai. Tidak ada nada provokasi sama sekali. Tetapi dari lirikan matanya, sudah pasti... ada.
Seperti Fiora, Nessa menyipitkan mata.
"Whatsoever. That's two kind of different things." tampik Briana. Di saat yang sama, kepala Briana kembali mematri perkataan Nessa. Buang sial, untuk hal baru datang. Hell? Briana melirik pesan yang baru masuk di ponselnya.
Ren Takahara
It was nice to meet you Bri :)
—
Balik dari keterpakuan sesaat, Briana menoleh sengit ketika Axel menyambar. "Ramalan gue udah pasti salah, tapi kalo lo, hm, kayaknya bener Bri."
Di akhir perkataan, Axel memberi lirikan tersirat pada Bian, yang sedari tadi mengarahkan netra, ke arah Briana. Namun, Briana tentu, tak lagi mengindahkannya.
"I agree," sahut Jevan jenaka, yang telah mengambil duduk di sofa, bersama Erica. "Lo kayanya perlu kembangin bakat terpendam lo itu Nes." katanya, terkekeh. "Biar nggak asal."
Nessa mencibir, tersenyum bangga, sedang Briana, sekali lagi memutar bola mata. "Move please? Enough!" Cukup dengan penjelasan ramalannya, yang sungguh, meski enggan mengakui, tetapi, mengenainya.
"Okay right, cukup dengan ramalan, kita ganti permainan," Sadar Briana benar-benar enggan membicarakan ramalan amatirnya. Nessa mengalihkan topik."Never have I ever, anyone?"
"I'm in." Axel menyambut. Diikuti Jevan dan Fiora, sedang yang lain, meski tak mengeluarkan suara, tetapi sudah pasti ikut serta.
Saat itu, masih diliputi pikiran akan ramalan dan perasaan kesal. Briana memasang raut datar. Duduk bersandar pada punggung sofa yang empuk, Briana menyedekapkan tangan. Sudah tak mau menghiraukan tatapan Bian yang kian terang-terangan. Sungguh, mengesalkan.
"I'll go first," Nessa membenarkan duduk. Mengangkat kedua tangannya, lengkap dengan sepuluh jari."Never have I ever been blackout drunk." selorohnya cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
