From The Dining Table - Harry Styles
—
Langit kian kelabu, membuat raksasa langit malu-malu. 'Tuk mengeluarkan sinar, memilih bersemayam di balik awan.
Rumah berarsitektur japanese modern dengan sentuhan kontemporer dan tradisional memiliki luas wilayah yang mampu menampung beberapa bangunan pavilion saling terhubung. Sering kali mengundang penasaran orang yang melewatinya. Mempunyai bentuk atap berbeda antar bangunannya; persegi panjang, segitiga berjenjang, trapesium datar.
Dilindungi pagar serupa kayu cokelat tinggi, menutupi kemegahan rumah yang terasa sepi. Mungkin orang yang lewat akan bertanya-tanya, asal, pada diri sendiri, apakah hantu yang menempati? Sambil mencuri lihat pada pohon bonsai dan oak yang meninggi.
Melewati pos satpam rumahnya, Briana sempatkan bertegur sapa dengan petugas di sana. Menapaki jalan beraspal untuk kendaraan, melipir pada jalan setapak terkhusus pejalan kaki yang sengaja dibuat bebatuan. Terhampar batu putih di antara rumput hijau. Dikelilingi pohon-pohon terpangkas rapi setiap waktu. Bunga azalea berbagai warna dan hydrangea. Horsetail serupa bambu juga ada di sana. Kolam di balik semak tertata, mengapungkan bunga teratai, dibalik stupa.
Menutup mata sejenak, membiarkan diri merasakan semilir angin menyapu helai-helai rambut. Briana menghirup udara dalam-dalam. Selalu menyenangkan berkeliaran di setiap sudut rumahnya, baik di luar ataupun di dalam.
Meski sekilas nampak dingin dan menakutkan, tetapi rumah salah satu peninggalan keluarga Jepangnya yang serupa labirin penuh tempat tersembunyi, adalah tempat terbaik bagi anak yang menyukai misteri.
Briana merasakan rintik hujan turun kala kaki hampir menapaki teras depan rumahnya. Berganti derasnya hujan yang jatuh pada pelapis bumi. Mengenai dedaunan, juga bunga yang tadi Briana lewati. Melirik car port sesaat sebelum berbalik badan. Ada mobil terpakir yang Briana kenal.
Mengerutkan kening. Briana meringis saat akhirnya berbalik badan. Merasa berat membuka pintu kayu yang melapisi sliding door kaca. Briana perlu melewati lorong panjang dengan sisi kanan, kiri, dan atap terbuat dari kaca yang menampakkan halaman samping, langit gelap, yang memburam, terbias embun dingin karena hujan.
Dinding kaca telah diganti padding wall warna Bronze. Terpajang lukisan berfiguran, guci perak dan keemasan, batu kristal beragam. Setiap langkah kaki mendekat, aroma sandalwood dari incense yang terbakar semakin menguat. Maminya masih menyukai hal-hal tradisional. Membawa serta aroma pegunungan dan hutan hujan, Briana telah berdiri di bagian dalam rumahnya yang berlangit-langit tinggi. Masih dengan dikelilingi aksen kayu dan abu-abu.
Dinding kaca menghantarkan pemandangan taman. Perapian kecil menyala di sudut ruangan. Pilar tinggi dari susunan batu bata. Lantai yang sama, terbuat dari kayu-kayu juga. Musik jazz lembut dihantarkan dari ruang musik. Favorit Briana, adalah kursi panjang—lounge di halaman utama untuk bersantai. Juga round pedestal table dengan tiga bangku, sebagai sudut untuk meminum teh dan mengobrol kegiatan sehari-hari.
Dulu, bersama mami dan papi.
Briana sedang mengganti alas kaki dengan sandal rumahan yang tersimpan di dekat genkan, ketika Bruno—toy poodlenya menyambut kedatangan Briana dengan berlari kecil dari dalam. Terduduk di bagian lantai kayu yang lebih tinggi, anjing kecil itu menggonggong halus. Terlalu imut, seperti tatapan lugu anjing kecil itu pada Briana yang seketika merileksan tubuh, melunturkan bias kaku di wajah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Novela JuvenilBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
