Electric Love - BØRNS
—
Hari ini jelas bukan tanggal 14 Februari. Hari yang kata orang penuh kasih sayang, dilabeli valentine.
Lalu, dalam rangka apa, rakyat FIB membuat acara bertema pasangan, dipenuhi hiasan pink, lagu-lagu orang kasmaran, di bulan Agustus yang gersang?
Briana cukup heran.
Saat itu, Bian mengulurkan google—pelindung wajah dalam permainan paintball—kepada Briana yang menerima ogah-ogahan sambil membuang pandangan ke sisi lain. Iya, tahu, kalau ogah, kenapa Briana mau diajak bermain paintball?
Ya, jelas, bukan karena Bian.
Briana mau hadiah yang ditawarkan.
Walau sebenarnya ia bisa beli sendiri—heran.
Di sore hari usai kelas selesai yang seharusnya bisa Briana manfaatkan untuk rebahan atau bergosip ria dengan teman-temannya di kosan, Nessa dan Fiora pasti sekarang sudah ingin memberondong Briana pertanyaan, Briana malah mengedarkan mata ke segala penjuru titik yang telah disulap menjadi arena permainan paintball.
Dihelat di bagian outdoor Felfest. Briana melihat panitia berkaos pink di balik meja booth sudut arena, sedang bersenda gurau. Membersamai mahasiswa yang juga ingin memainkan paintball, menunggu sambil duduk di pinggiran.
"I can wear it on myself." sentak Briana, ketika Bian ingin memakaikan penutup wajah itu padanya.
Briana just can't think, is he crazy?
Mau melakukannya di depan teman-teman Teknik lelaki itu? Ingin membuat Briana menjadi top headline 'cewek baru Bian'? Geez.
"Nggak lupa?" dalih Bian. Lelaki itu juga mengenakan pakaian serupa dengan Briana. Seperti seragam angkatan bersenjata—yang, selalu berhasil membungkus tubuh lelaki itu kelewat pas... kelewat—ok, that's enough.
Briana bersungut-sungut. "Dikira gue amnesia?" Briana jelas masih ingat cara pakainya, walau sudah lama tidak bermain paintball karena alasan pribadi.
"Oh, nggak?" tanggap Bian yang berdiri menjulang di samping Briana. Suaranya tenang. "Kalau nggak, seharusnya lo juga ingat..."
Briana menukikkan alis.
Bian menyelesaikan perkataannya, datar. "Sama status kita."
"Mantan." Briana membalas nyolot. Harus berapa kali dirinya mengingatkan? "M.A.N.T.A.N."
Deru napasnya kasar. Balasan tidak santai Briana, berujung membuatnya menyipitkan mata. Mendapati Bian mendengus pelan. Briana menelengkan kepala. Melihat Bian membuang pandangan darinya. Lelaki itu terkekeh; bukan jenis kekehan lucu yang menyenangkan. Lebih seperti, tokoh villain yang merayakan kesenangan setelah mengeksekusi kejahatan. Gila.
"Briana," Bian kembali menoleh padanya. Kala itu, tatapan Bian yang teduh, menajam. "Watch your words."
"So?" Briana menukikkan alis tinggi-tinggi. "If I won't? You can't order me the way you want, Bian. I'm a free spirit here."
"Briana—"
"Hi, sorry guys, kelas gue baru selesai..."
Hell. Nice.
Demi apapun di muka bumi ini. Tidak ada yang lebih mengesalkan dari situasi sekarang. Mata Briana melotot seketika, menemukan salah satu makhluk yang tidak kalah mengesalkan—is it okay to say, fuck?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Ficção AdolescenteBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
