32.3 Wildflower Wildfire

17.4K 1.3K 383
                                        

+ Steamy +

One Sweet Dream -
Mariah Carey, Boyz II Men

2014 - 2019

Bian Tjokrowinata

Hari ini belajar di rumah aku?

Sepuluh menit berselang, Briana sengaja tidak membalas pesan Bian. Memandang dengan senyum licik ruang obrolan mereka, Briana membiarkannya hanya terbaca. Sudah berhasil keluar dari gamang perihal putus atau tidak. Briana mematri dalam hati, diiringi tawa rendah; Inilah saatnya Briana memulai aksi. Senyum setan mengambil alih diri.

"Nggak belajar bareng den Bian, Non?" tanya Sopir Briana, Pak Kismin, di balik kemudi.

Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah. Akhir-akhir ini, Pak Kismin terbiasa mengantar nona mudanya ke tempat yang disebut lokasi belajar—rumah teman nona mudanya yang bernama Bian.

Saat itu, Pak Kismin terpukau, berpikir terharu; nona mudanya mulai berada di jalan yang benar. Sebab sebelum ini hanya suka bermain dan jalan-jalan. "Kalau nggak ada tugas dan ulangan, biasanya hari Selasa dan Kamis ya, Non? Hari ini engga Non? Hari ini hari Kamis," Kalau-kalau Nona-nya lupa. Pak Kismin mencuri lihat dari kaca spion.

"Hari ini saya mau libur dulu, Pak," balas Briana sambil menunjukkan senyum sumringah.

Pak Kismin heran. "Oh... tumben Non?" Biasanya, nona mudanya lebih seperti manusia kebakaran jenggot, kalau terlambat sedikit saja ke lokasi.

"Pokoknya hari ini saya nggak mau ke tempat tutor Buddha saya itu Pak—"

"Loh, Non, Den Bian tutor buat ganti agama juga? Haduh, pantes atuh, saya sempet lihat patung, apa teh, kayak Bidadari, Dewi?" Pak Kismin terkejut. Merujuk pada pahat patung Dewi Kwan Im di rumah Bian. "Ibu sama Bapak tahu, Non? Saya bakal salah nggak Non, karena suka nganterin Non ke sana?"

Briana mengibaskan tangan. "No! Maksud saya, tutor saya yang kaya patung Buddha, Pak! Lagian, Bian sama saya seagama kok! Dia rajin ke gereja."

"Oh... syukurlah," Pak Kismin menghela lega. "Tapi kenapa disebut patung Buddha, Non? Saya lihat Den Bian cakep, meni kasep pisan... kayak aktor euy, Non, ganteng. Saya teh pengen muka kayak begitu. Biar Susi si primadona komplek mau sama saya."

Briana terkekeh. "Lurus banget soalnya, Pak."

"Oh..." Pak kismin terheran-heran. "Bagus bukan atuh Non, kalau lurus mah? Nggak aneh-aneh?"

"Lurus sampai mentok, Pak. Bagus nggak kira-kira?"

"Nabrak atuh..."

"Right? Makanya mau saya belokin..."

"Oh... tapi jangan kebanyakan beloknya, Non. Nanti kesasar, susah lagi baliknya..."

"Itu tujuan saya, Pak."

Briana tersenyum jumawa. Mengabaikan raut terheran-heran Pak Kismin yang balik fokus ke jalan. Briana merunduk, melihat ruang obrolannya dan Bian. Selang empat puluh lima menit Briana tidak membalas ruang obrolan kaku mereka, Bian tidak juga mengiriminya pesan lagi untuk memastikan. Sudah tertebak.

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang