All the Lights - By The Coast
—
Tepatnya di siang hari kala musim kemarau bulan April 2015 berlangsung. Sepasang sepatu hitam bergesekan kasar dengan setapak pelapis bumi tak sabaran. Melewati objek-objek familiar sekolah dari arah lorong barisan lemari metal besi; loker berada.
Langit sedang cerah-cerahnya. Dipenuhi biru terang, setajam coral. Segaris putih dibiaskan, terhempas asal. Awan menggantung tak berbentuk, jarang-jarang. Biru, dikuasai biru. Pohon meninggi, oleh daun menguning, berserak di tanah. Saat sebagiannya digerakkan angin masai, menampiaskan terang yang melewati celah dahan.
Sepasang kaki panjang itu berderap. Tubuh tegapnya nampak kokoh tak goyah. Wajahnya yang keras, mungkin telah membuat sebagian orang yang tak sengaja, bahkan terang-terangan melihatnya, segan. Wajah itu, tatapan mata itu, pahatan rahang tegas itu menatap lurus ke depan, selurus jalannya yang tak sedikitpun ditolehkan. Bahkan saat tatapan penasaran orang-orang yang dilewatinya, dilemparkan.
Lajunya perlahan-lahan dilambatkan. Lebih teratur dari ketukan menggebu-gebu tak sabaran. Kepala yang sedari tadi lurus ke depan, kini ditolehkan. Mengabsen titik-titik manusia, benda. Dari luar jendela salah satu ruang kelas, sepasang mata tajam itu menemukan yang dicarinya; sesosok manusia, gadis dengan rambut yang kali ini kembali berwarna hitam, panjang tergerai sepunggung, yang mungkin, telah memperkirakan kedatangannya.
"Briana."
Menunggu. Tak ada sahutan.
Bian telah berdiri menjulang di sisi single meja dan bangku yang Briana duduki. Terang saja, eksistensinya tak mungkin tak Briana sadari. Meski Briana tengah berselancar pada gawai, mendengarkan musik dengan airpods di telinga. Coldplay, Bian sempat melirik di ponselnya.
Tak lantas, diperhatikan sejak ia masuk ke dalam ruang kelas oleh siswa-siswi di sana yang seketika mensenyap. Salah satu teman Briana yang duduk di sisi kiri Briana menyenggol bahu Briana sengaja. Sama merasa tidak biasanya dengan yang lain, mendengar Bian yang jarang berkata-kata. "Bri!"
Briana menoleh pada gadis yang Bian ketahui bernama Tamara. "Ada Bian!" bisiknya yang tentu bisa Bian dengar. Dibalas Briana santai, tanpa keterkejutan. "Oh."
Ketika akhirnya Briana menoleh padanya. Mempertemukan sepasang mata karamel gadis itu yang berkedip malas dengan mata hitamnya yang berkilat tajam, Briana menarik lepas penyumpal telinga. "Kenapa?"
Bian membiarkan tiga detik pertama sejak pertanyaan basa-basi Briana dilempar, untuk mereka saling bertatapan. Untuk Bian menenangkan laju jantungnya. Kepalan tangannya terurai.
"Where did you take all my chocolates?"
Hanya Briana, selain dirinya yang tahu kode lokernya. Masih dalam tenang, Bian sekali lagi menunggu Briana yang sepersekian detik memutus tatapan mereka. Gadis itu nampak sekali hanya pura-pura berpikir. Mengembalikan tautan mata, jelas ekspresi gadis itu mencemooh kala akhirnya secara percaya diri menjawab. "Aku buang."
Alis Bian menukik tak senang. "Kamu, apa?"
"Aku buang," ulang Briana, menegakkan duduknya. Terlalu santai untuk seseorang yang habis membuat perkara. Bahkan Tamara, sebagai pihak yang tidak dihujami tatapan Bian, sudah panas dingin di samping Briana. Ingin menyadarkan temannya. Mendengar pacar temannya yang irit bicara itu, berkata tenang, tetapi cukup, menakutkan."Bri—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
