High School in Jakarta - NIKI
—
Indonesia, 2014 - 2015
Bian mengira, ajakan bersenang-senang dari Briana, yang dilontarkan kelewat tiba-tiba, tempo lalu, di taman belakang, adalah bentuk pertemanan... seperti dulu. Namun ternyata, Bian salah paham.
"Ish! Gue sebenarnya lagi ngapain, sih?! Sekarang seharusnya Bian pacar gue 'kan? Tapi, kenapa, kita berdua lebih seperti orang nggak saling kenal?!"
Gerutuan kesal itu Bian dengar, di dekat belokan ke arah toilet, setelah dirinya dan Briana berpapasan di loker untuk yang entah, kesekian kalinya sejak 'ajakan bersenang-senang' Briana. Bian akui, dirinya memang tak sampai diri untuk menyapa gadis itu. Kalau boleh dibilang, dirinya yang kaku, teramat ragu dan malu. Diselimuti pertimbangan. Membuatnya seolah mengacuhkan Briana, di saat sebenarnya, Bian sekuat tenaga menahan kepala, dari keinginan untuk ditolehkan. Menjadikan penyesalan dipupuk, oleh kurangnya keberanian.
Jadi... bukan pertemanan...
Tapi... hubungan asmara...
Apakah ini semua nyata?
Bian khawatir, hanya khayalan belaka.
Sebab sebuah ajakan pertemanan saja, Bian yang biasanya tenang, seketika terserang gugup. Apalagi hubungan asmara? Dengan Briana? Bian merasa... jantungnya seolah ingin meledak. Mempertanyakan; di mana kewarasannya? Masih di tempat kah? Semoga. Bagaimana dengan indera pendengaran? Semua sehat? Apa ini efek samping dari ia yang sering membuat perhitungan dengan mantan gadis itu dan mulai membayangkan bagaimana jika dirinya yang menjadi pasangan Briana selanjutnya?
Terlalu bermimpi... terlalu berharap...
Salahkan kakinya yang tertancap di lantai. Terlalu banyak pertimbangan untuk dilangkahkan; benar, salah. Rencana sapaan ber-seliweran; apa yang harus Bian katakan jika mendekatinya sekarang?
'Hai... jadi, maksud have fun yang kemarin itu apa?' Rasanya, Bian bisa menerka, Briana akan lebih kesal mendengarnya. Lebih-lebih, menarik kembali ajakannya. 'Hai, jadi, sekarang kita bukan hanya teman, tapi sepasang kekasih?' Terdengar kepedean dan tidak tahu diri. 'Hai, apa kabar? Sudah tidak marah?' Sangat kaku dan kikuk... 'Hai, aku minta maaf... Bruno apa kabar? Mami Papi kamu sehat? Kamu masih suka bintang, permen, batu kristal? Aku dengar kamu sekarang suka Coldplay... bagaimana dengan Howl? Briana... kamu cantik'.
Manik Bian yang selalu datar, sedikit melebar.
Mematri, yang benar saja, apa tidak ada sapaan pembuka yang lebih baik lagi, yang dapat ia pikirkan? Bian yang selalu merasa mudah dengan banyak hal; belajar, contohnya. Mengapa sulit sekali dalam hal seperti ini? Hal-hal menyangkut Briana.
Mungkin Bian harus mengatakan; 'Bee... kamu masih ingat nama kecil itu? Lebah menyengat yang ramai, kamu tumbuh menjadi kian bersinar dan memukau. Kamu tahu aku sangat suka melihat kamu saat sedang latihan cheers di lapangan? Selalu menenangkan, menyenangkan melihat senyum dan semangat kamu. Aku suka. Rasanya menular, seolah aku mendapatkan energi yang sama. Bee, terlalu banyak kesalahpahaman di antara kita. Salah aku yang kaku, yang nggak pernah menjelaskan sebaik-baiknya. Tetapi kamu tahu hal yang paling benar? Aku selalu ingin jadi teman kamu. Berada di dekat, di sisi kamu. Sedari kita kecil... sampai sekarang'.
Sesaat, Bian menarik napas dalam. Kalau ada yang menangkap basah posisi dirinya saat ini, mungkin akan mengerutkan kening heran, sebab ia bagai penguntit yang diam-diam melihat Briana di depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Teen FictionBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
