Oceans & Engines - NIKI
—
Satu hari setelah pemakaman Papi, Briana memberitahu Mami, dirinya ingin menanam pohon kesukaan Papi tepat di samping makamnya, di dalam kompleks serupa taman, sebagai peneman agar Papi tidak kesepian. Untuk Papi tetap bisa melihat bunga seputih salju kesukaannya mekar.
Tennessee tree tumbuh subur. Bercahaya seperti yang ada di rumah mereka. Lalu bunga liar ikut serta hadir, tanpa diundang, tepat di atas makam Papi. Bunga-bunga berwarna ungu yang tak Briana ketahui namanya tumbuh cantik menghiasi.
Briana sempat mencari tahu arti hadirnya bunga di atas makam sebelum rencana pencabutan dilaksanakan. Katanya, bunga yang tumbuh di atas makam mengartikan bahwa manusia yang mendiami makam tersebut adalah orang baik, sehingga tumbuhan turut serta ingin mendoakan. Bersama bunga dan rumput-rumput liar. Briana meminta Mami untuk tidak mencabutnya sampai bunga-bunga tersebut layu dan mengering.
"You need to stop being so touchy." gerutu Briana seraya menepis tangan Bian yang baru menyentuh sehelai rambutnya. Mungkin lelaki itu ingin merapikan rambut Briana yang tersapu angin, mana mungkin Briana mengizinkannya?
To be fair. That was a sarcasm.
Ada jeda waktu, Bian hanya menatap lekat Briana dengan oase hitam pekatnya. Kening mengernyit, mata menyipit. Briana diam-diam menunggu bait dari bibir Bian yang terbuka, hendak berkata-kata. Menghasilkan suara yang dalam, tanpa tekanan, tenang. "I'm envy with the wind. It can touch you without being feared of rejection."
Lantas Briana memasang raut seolah-olah habis mendengar lelucon paling aneh sedunia. "You sure as hell imagining it."
"I'm, Bri." balas Bian yakin, seyakin tatapan lelaki itu kala mengatakan takdir yang membuat mereka bertemu. Juga ungkapan bahwa lelaki itu hanya mengikuti Briana secara sengaja untuk melindunginya dari marabahaya.
Apa yang lebih lucu dari itu semua? Bian yang lagi-lagi ada di dekatnya kurang dari 24 jam? Atau Bian yang menyindirnya. "Apa fungsi atap yang menaungi makam Papi kamu, kalau kamu kehujanan, Briana?" Sebab pertanyaan retoris itu membuat Briana déjà vu luar biasa. Bian memayunginya. Ingin merapikan helai rambutnya. Menasehatinya.
Datar, tetap datar.
Kembali pada apa yang Bian katakan atas bahaya, sebab meski Briana ingin mengacuhkan; menganggapnya sebagai bualan yang tak perlu dipedulikan; Briana cukup heran. "Maksud lo apa? Bahaya? Emang gue anak kecil yang perlu diawasin dari bahaya?!"
Bian hanya menatapnya.
Selekat tatapan lelaki itu untuk Briana seperti biasanya. Briana tahu, selalu ada makna di balik tatapan Bian, dan seperti yang bisa diduga, Bian tidak menjawab, sebaliknya lelaki itu meletakkan payung yang dibawa usai menarik halus lengan Briana ke sisi yang dilindungi atap. "Temenin aku beri salam ke Papi kamu."
"Lo nggak perlu—" Penolakan Briana yang akan dilemparnya secara kasar teredam. Sadar bahwa Papi menyukai Bian, dan akan senang dengan kunjungan lelaki itu. Briana menghembuskan napas.
Mengambil langkah mendekat ke makam Papi lebih dahulu, diikuti Bian. Bersisian berdiri di dekat nisan. Dari ekor matanya, Briana mendapati Bian terdiam. Mata lelaki itu terpaku lurus pada nisan, mungkin membaca tulisan-tulisan yang ada di atasnya. Mata Bian sempat terpejam. Entah apa saja yang lelaki itu panjatkan, atau katakan dalam hatinya. Briana menebaknya cukup panjang. Sebab lama, lelaki itu baru membuka mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Ficção AdolescenteBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
