Vide Cor Meum -
The City of Prague Philharmonic Orchestra
—
Jakarta, 2016
To Bian,
Saya hari ini tidak sengaja bertemu Valencia di Mulia. Sama seperti tahun-tahun saya, dirinya, dan William di Oxford, aura Valencia selalu membuat pemikiran 'dia memancarkan aura orang pintar dengan pembawaan yang sangat tenang' terbesit di pikiran. Gestur tubuh luwes dan senyum sopannya, menutup argumen-argumen cerdas yang lekas akan membuat orang lain skakmat. Valencia ahlinya. Melakukan hal tersebut tanpa melunturkan senyum dan suara yang teratur. Tidak ada yang menduga-duga. Sahabat saya, William, salah satu korbannya.
Duduk seorang diri di salah satu sudut dekat jendela dengan blouse putih. Valencia terlihat sehat. Senyum lembutnya seolah mengatakan bahwa dirinya mensyukuri semua hal yang diberikan Tuhan kepadanya dan telah merelakan yang tidak ditakdirkan untuknya. Valencia memang orang baik, dan selalu berpikir positif. Saya refleks ingin mendoakan dirinya hal-hal baik di dalam hati.
Saya selalu izin dengan istri saat hendak keluar rumah. Briana pasti akan marah karena saya merahasiakan ini darinya. Namun, beruntung, Briana baru akan bangun minimal pukul sebelas saat hari libur. Entah, cepat atau lambat anak itu tahu, saya dan kamu harus segera menyusun kalimat penjelasan. Saya menulis ini sambil tidak bisa menahan senyum dan tawa membayangkan raut terkejutnya. Mungkin ditambah bingung. Lucu.
Di pukul sembilan pagi hari Minggu, sebelum janji pertemuan saya dan kamu, seperti akhir-akhir ini. Kali ini tidak biasa karena ada Valencia yang menyesap coklat hangatnya di bulan-bulan cukup panas di Jakarta. Membuatnya terlihat kontradiktif.
Berdiri di samping mejanya, harum bunga khasnya tertangkap indera penciuman, saya berkata padanya, sambil melirik croissant yang terhidang. "Seseorang akan memilih chamomile, dibanding coklat panas dengan croissant." Valencia mengangkat kepala, senyumnya dalam sebelum melirik cangkirnya. "Sudah menjadi kebiasaan." Valencia mempersilahkan saya duduk di hadapannya.
"Saya kenal seseorang yang akan lebih memilih minuman coklat." kata Saya. Senyum Valencia semakin mengembang. "Bian mirip Papanya."
Dengan yakin, saya membalas Valencia. "Bian mirip kamu." Senyum saya ulas sebaik mungkin. Valencia terdiam cukup lama, dia hanya membalas senyum saya. "Apakah itu hal yang baik?" tanyanya. Saya selalu kesulitan memaknai senyum Valencia.
William yang bisa.
"Sangat baik, sampai saya mempercayakan anak perempuan saya kepada anak lelakimu, Valen."
Kami berdua sama-sama tahu hubungan antara kamu dan Briana. Kami sedang bertukar senyum, yang saya anggap sebagai senyum sesama orang tua yang saling memahami, ketika Valencia berkata untuk terakhir kali sebelum pamit. "Saya bersyukur, Bian dipertemukan dengan orang-orang baik."
Saya memintanya untuk tetap tinggal dan bergabung bersama kita, tetapi Valencia berkata dirinya harus menjemput Tiana di rumah sepupunya. Maaf, saya tidak memberitahu langsung pertemuan kami kepada kamu sebab Valencia meminta dirahasiakan.
Saya tidak ingin berspekulasi sendiri dan bertanya-tanya alasan dari permintaannya, cukup saya dan kamu tahu bahwa tujuan Valencia selalu baik. Dia selalu memikirkan kamu dan menginginkan hal baik untuk kamu. Dia sebenar-benarnya seorang ibu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fixing The Star ✓
Novela JuvenilBriana Diamour pernah melakukan tindakan bodoh saat masa sekolah: mengajak pacaran lelaki yang disukai oleh musuhnya. Briana yang kala sekolah dikenal sebagai ratu jahat dan bintang cheerleader, menemukan kenyamaan dari lelaki yang tidak ia duga-dug...
