5. Gone Wrong

38.1K 3.1K 234
                                        

Super Rich Kids - Frank Ocean

"Orang gila. Bisa-bisanya ngasih gue krim pembesar payudara dengan entengnya!"

Sekeluar dari kelas yang membahas akuisisi dan penggabungan perusahaan, induk dan anak usaha, serta laporan keuangan konsolidasian. Briana buru-buru mendekati tong sampah terdekat ruang kelasnya. Merutuk sesekali sepanjang jalan, dengan wajah tak bersahabat. Sampai-sampai, Fiora yang terseok-seok mengikuti Briana di belakang, hendak membuang benda keramat tersebut, bergidik, ngeri.

Ragu-ragu, sebelum Briana membuang benda tersebut, Fiora bertanya. "Itu... beneran krim..." Fiora refleks melirik payudara Briana yang lantas melotot. Buru-buru Fiora menaikkan pandangan. Nyengir. "Bener, Bri? Dari Bian?" Fiora penasaran.

Briana mendengus. Air mukanya bete. menggenggam erat bungkusan di tangannya seolah-olah ingin meremukkan benda tersebut dengan seluruh kekuatannya. Menyebalkannya, Briana tahu, kenapa lelaki sialan—Bian—bisa-bisanya memberikan Briana barang seperti itu.

Hanya heran, kenapa Bian masih mengingatnya? Atau, untuk apa lelaki itu mengingatnya, dan membuat perkara dengan Briana?!

Mengingat salah satu permasalahan Briana saat dulu masa SMA; dada Briana tidak seperti anak perempuan lain yang cepat tumbuh. Terkesan datar—tepos, ungkapannya. Briana sering mengeluhkannya kepada mami. Lalu mami akan menenangkan Briana, dengan berkata; that's normal, Bri. Tidak semua bentuk tubuh perempuan sama. Ada hormon yang mempengaruhinya. Lagipula, Tuhan telah memberikan porsi ke tiap diri tubuh manusia, sebaik-baiknya.

Tetapi tetap saja, seperti remaja labil kebanyakan yang kalau keinginan tidak terpenuhi, Briana tidak sepenuhnya menerima perkataan mami, sehingga banyak upaya yang telah Briana lakukan. Selain mengenakan bra dengan busa berlebihan—Briana juga menggunakan; krim pembesar seperti yang Bian berikan!

Dulu, sebab sekarang, Briana sudah menerimannya, dan kalau dilihat-lihat juga, sudah tidak separah sebelumnya. Malah terlihat proposional. Bodohnya Briana... karena walau enggan mengakui, Briana memang sering mengeluhkan perihal tersebut kepada Bian, tentu, selama mereka masih pacaran.

Sekejap, Briana mengerang atas ingatan memalukan tersebut. Menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Briana hampir menjerit dalam ringisan. Lalu, saat Briana sadar seharusnya ia tidak seperti ini, Briana kesal. Mengapa mengingat-ingat hal itu sih, Briana?! Stop! Jangan sampai mengingat hal yang lainnya ya! Cukup sampai di situ saja!

"Bri..." Fiora yang sedari tadi berdiri di samping Briana mengerutkan kening.

Merasa heran. Temannya masih waras 'kan? Fiora jadi khawatir... sebab akhir-akhir ini, semenjak Bian tak lagi terlihat diam, Briana jadi nampak sering... spaneng...

Namun, kelihatannya, Briana terlalu larut dalam pertentangan isi kepalanya, sehingga tak menggubris panggilan pelan Fiora. Baru selanjutnya, ketika Briana bergedik untuk yang—entah ke berapa kali, Fiora mengambil dua langkah mundur.

"Oit."

Axel berjalan, diikuti Nessa di belakangnya, mendekati Briana dan Fiora dari arah kelas mereka keluar. Fiora yang tahu salah satu pemicu rasa kesal Briana adalah Axel, panik, langsung mengirimkan sinyal dengan mata dan gerakan bibirnya kepada Axel; Fiora menggelengkan kepala, menyilangkan kedua tangannya di udara agar Axel tidak mendekat, sebelum Briana sadar. "Jangan ke sini! Pergi sebelum Bri lihat!" Mungkin seperti itu perkataan Fiora kalau disuarakan.

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang