6. Night Errors

36.6K 2.9K 277
                                        

Wish You Were Sober - Conan Gray

"Jangan kira Mami tidak tahu ya, Bri. Kamu itu, sedang tidak punya pacar."

Mami yang memang selalu mengetahui berita terbaru mengenai Briana. Matanya berkilat, menghujami Briana yang bersikap seolah-olah mengatakan hal paling jujur. Di ujung ruangan, mami menggeret Briana tak lama setelah rencana pertunangan Briana dan seorang lelaki bernama Ren Takahara diumumkan.

Baru rencana, Bri. Baru. Patri Briana dalam hati. Matanya mendapati Ren Takahara tengah berdiri di sudut ruangan yang lain. Masih disertai senyum lima watt. Bersahaja. Briana yakin, ibu-ibu sosialita yang ada di ruangan ini pasti ingin berlomba-lomba mengenalkan anak gadis mereka padanya. Sungguh, Briana heran, apa bibir lelaki itu tidak pegal?

Tak mau memusingkan. Briana membalas. "Bri punya kok," Keningnya berlipat-lipat dongkol. "Mami nggak percaya???"

"Engga!" Mami berkacak pinggang. Tampilan boleh ayu dan elegan, mengenakan kimono formal, tapi kelakuan—tidak jauh berbeda dengan Briana yang sesekali merenggangkan lilitan ikatan kimononya. "Fine kalo Mami nggak percaya, yang penting Bri nggak mau dijodohin! Lagian, ide siapa sih? Kenapa bukan Yuki atau Kira aja?! Kalo perlu, Ken!"

Mami melotot. Briana melengos. Memperhatikan kuku-kuku cantiknya yang lebih menarik daripada seisi gemerlap pesta malam ini.

"Kamu mau kemana?" Mami menahan, kian sewot, sebab Briana mau berlalu begitu saja dari sana. "Kamu belum ketemu Ojiichan, Obaachan!"

Briana yang memang sudah bete maksimal, membalas, datar. "Cari angin. Di sini panas." Lagipula, bukan salah Briana yang belum bertemu Ojiichan dan Obaachan-nya. Salahkan pihak yang men-set rundown acara dengan pengumuman rencana perjodohannya! Secara tiba-tiba!

Bikin syok iya. Briana jadi malas mendekat ke sana.

Sebelum mami membuka mulut untuk mengomeli Briana lebih lanjut, seorang wanita yang mengenakan Cheongsam lebih dahulu menyela. Briana tentu menggunakan kesempatan itu untuk buru-buru mengambil langkah seribu. Memberi tatapan terakhir pada mami yang sempat melempar lirikan tajam; menyuruh Briana diam di tempat.

Tersenyum palsu; Briana jelas bukan lelembut, yang akan berdiri diam di situ.

"Have you used it?"

Baru hendak melangkahkan kaki keluar ruangan, suara bariton lebih dahulu membuat Briana tertahan. Tanpa perlu memutar tubuh, atau bahkan menebak-nebak, Briana tahu siapa yang melempar pertanyaan.

"Not yet?" Suara berat sosok yang menguarkan aroma maskulin yang kuat itu terdengar lebih serak dari sebelumnya. "Need my help?"

Gila. Apakah hari ini dicetuskan sebagai hari paling mengesalkan sedunia untuk Briana? Nampaknya, sesekali Briana perlu mencoba mendatangi tukang ramal; membaca kartu tarot untuk melihat apakah ada hal gila lagi yang akan datang. Berani-beraninya, sosok lelaki yang berdiri di belakangnya, bertanya perihal krim laknat yang lelaki itu berikan?!

"Briana." Mengira sosok lelaki yang seharusnya diam itu akan bungkam, tebakan Briana jelas salah total. Briana memutuskan balik melawan, menyedekapkan tangan,"What?!"

"Do you agree with that shit?"

"What shit, exactly?"

Fixing The Star ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang